keep your dream, hold it tight

terjatuh itu wajar, namun jangan terlalu lama tersungkur. berjalanlah walau harus tertatih :)

Rabu, 04 Januari 2012

Tanah Yang Dijanjikan

Tanah Yang Dijanjikan

Nina minawati Muhaemin



          Terkadang aku berharap tak dapat melihat mentari terbit. Kadang aku bosan mendengar degup jantungku. Kadang aku berharap aku lupa untuk bernafas------ Kini jalanku telah tertatih, tak mampu lagi berlari mengejar angin, menangkap kebahagiaan. Hidup dalam baying-bayang kelatian yang belum jua menjemputku.

            Selalu terlintas dalam benakku, untuk apa aku hidup? Untuk merasakan kepedihankah? Atau untuk menghitung mayat-mayat yang semakin hari semakin bertambahkah? Atau untuk mendengar jeritan-jeritan penderitaankah? Kurasa ini bukan pertanyaan, namun sebuah kenyatahan yang harus ku TELAN.

            Tak terasa telah 1 bulan aku berada di Libanon. Tak terasa…, ya memang tak terasa, karena mungkin sekarang aku terlah mati rasa. Libanon, bermil-mil jauh dari padang gersangku : GAZA. Mungkin kau bertanya, bagaimana aku bias berada disini---- Ini adalah cerita yang panjang.

            Semua berawal ketika aku dibawa oleh seorang relawan China pasca agresi yang dilakunkan para Zionis atas wilayahku : Gaza. Ia seorang pria tinggi, putih, dan mempunyai mata yang nyaris tertutup. Ia dating ketika aku duduk bersimpuh di depan mayat adikku, Ridwan. Dengan segera lelaki China itu membawaku yang tak henti-hentinya menangis.Aku dibawanya ke tempat yang penuh akan tenda-tenda besar. Disana ada sekumpulan wartawan dari berbagai Negara. Kadang aku berfikir, untuk apa mereka kesini? Untuk sebuah berita besarkah? Atau untuk menghampiri kematian mereka sendiri? Aku tak mengerti.

            Aku melihat ada banyak orang sebangsaku : tua, muda, anak-anak, dewasa, mereka berkumpul disana dengan situasi dan kondisi yang berbeda-beda, yang sangat ku tahu tak ada satupun dari merekan berada dalam keadaan yang baik.

            Pemuda China itu terus membawaku melewati beberapa tenda yang penuh oleh orang-orang Palestina. Diantara mereka, ada yang memperhatikanku dan ada juga yang gundah gulana sendiri. Kami berhenti tepat di depan sebuah tenda besat berwarna kuning keemasan. Dari dalam keluar seorang gadis cantik berambut lurus panjang, warnanya hitam nan berkilau : begitu indah. Dalam sedetik aku dapat mengetahuii bahwa wanita cantik itupun adalah orang China : mereka mempunyai mata yang hamper tertutup. Kadang aku bertanya, apakah mereka dapat melihat dengan jelas? Hanya mereka yang tahu. Si lelaki yang baru ku tahu namanya adalah Yuo Eun berbicara dengan wanita itu yang dipanggil Shin oleh You, mereka berbincang dengan bahasa tang kosakatanya tak ku mengerti sedikitpun. Dalam percakapan Shin, memandangku, matanya terus bergantian antara memandangku dan Yuo. Aku bias membaca tulisan besar yang tersirat di dalam mata Shin yang sedang melihatku : IBA, itu membuatku cukup mengerti bahwa mereka sedang membicarakanku. Bukan….., bukan membicarakanku, melainkan membicarakan kemalanganku.

“I’m so sorry for you!!” Ucap Shin, menatapku iba.

sedikit mengejutkanku karena tanpa sadar aku menyimak pembicaraan kedua orang China itu (meskipun ku tak mengerti). Aku bias merasakan ada tulisan besar yang terpampang di keningku : AKU SEDANG FRUSTASI. Terlalu lemah bagiku untuk membalas ucapan Shin.

“I promise you’ll gonna save here..” Lanjut Shin sambil membawaku ke dalam terda. Itulah pertamakali aku menginjakkan kakiku di tempat pengungsian.



***



Ini dalah sebuah kisah kelam diantara kekelaman dalam hidupku. Bagaimana aku bias berada jauh dari Negeriku : bagaimana aku bias berada di Libanon, di sini di tempat aku berdiri. Gaza…., bukan…, bukan Gaza, tepatnya Palestine apa kabarmu?

            Saat itu pengungsian adalah tempat yang aman bagiku untuk berlindung. Menghabiskan siang hari membantu para ibu memasak, merawat orang yang terluka, dan mendengaarkan cerita kelam mereka. Ketika malam aku lebih suka berada di tengah-tegah anak kecil, ya.., sedikit mengobati kerinduanku pada adikku, Ridwan. Aku menceritakan kepada mereka tentang sebuah negeri yang aman, damai , dan terntam, yang entah apakah memang benar-benar ada? Aku sangat berbakat dalam hal bercerita tentang keindaha, kedamaian, kebahagiaan, dan cinta, karena hal itulah yang sering kupikirkan bagaimana rupanya.

            Anak-anak itu…, yang tak berdosa, yang tak mengerti dengan apa yang sedang terjadi. Senyum mereka bagai mentari yang terbit di pagi hari : begitu indah. Entah apa yang berada di kepala malaikat-malaikat kecil itu, yang ku tahu ada kerinduan di mata mereka, kerinduan yang mendalam akan sebuah : KEDAMAIAN. Sesekali ceritaku terhenti kala terdengar bunyi dentuman yang mengejutkan. Aku heran, bahkan mereka tak ketakutan sedikitpun, Allah pasti telah menguatkan hati mereka sedemikian rupa. Mereka selalu bias tersenyum bagaimanapun caranya. Sedikitpun tak ku dengar keluh kesah dari bibir mungil mereka, berbeda denganku yang terkadang lupa untuk bersyukur, astagfirullah…., ampuni hamba-Mu ini Ya… Allah.

           

***

           

Pagi-pagi sekali aku melihat anak-anak berkumpul di tempat dimana aku biasa bercerita. Mereka membentuk sebuah lingkarang dengan seorang pemuda di tengah-tengah mereka. Ternyata itu Traver, relawan asal Amerika. Ia begitu terlihat serius dalam ceritanya, hebatnya ia begitu fasih bahasa kami. Aku mendekat dan ikut menyimak, 5 meter jauhnya dari mereka.

“aku yakin kalian tidak tahu perbedaan antara Yahudi, Zionis dan Israel…” Ujar Taver yakin.

“Mereka sama…., sama-sama penjajah!!!” teriak seorang pemuda dari belakang, ya…, terdengar kesal dan marah.

Traver tidak menghirauka pemuda itu dan ia melanjutkan perkataannya. “Yahudi adalah   nama atau sebutan untuk bangsa yang merupakan keturunan Israel, nama lain nabi Yakub.AS. Nama Yahudi sendiri berasal dari salah seorang putra nabi Yakub yang bernama Yahuda. Sedangkan Zionis itu adalah ideology dan gerakkan yang pertama kali dicetuskan oleh Theodor Herzl. Kata Zionis diambil dari kata ‘Zion’ yang merupaka salah satu bukit di ‘tanah yang dijanjikan’. Gerakan ini menghimpun semua bangsa Yahudi untuk kembali berkumpul, bahkan…., bahkan…,” Traver terhenti dalam ceritanya, ia tertunduk dan menutup matanya.

“Ayo….!!! Lanjutkan!!” Sahut seorang bocah kecil yang duduk di samping kirinya.

            Traver kembali mengangkat kepalanya, dan sekarang matanya tertuju pada bocah kecil yang ada di sampingnya. Dengan segera ia menmangku bocah kecil itu dan mendudukkannya di pangkuan.

“Hey…., Aisyah, what is he doing over there?” Yuo Eun tiba0tiba berada di sampingku yang cukup mengagetkanku.

“Hey…, Yuo. Traver, he’s telling a story to these Child…” jawabku berusaha menyimpan rasa kagetku.

“Bahkan……, bahkan…., dengan menginjak-injak dimensi kemanusiaan Negara lain.” Akhirnya Traver melanjutkan kata-katanya, dengan senyum yang lebih mirip dengan ekspresi menakut-nakuti, terlalu dipaksakan menurutku.

“Sementara Israel merupakan Negara yang bukan Negara, karena mencaplok wilayah Palestina dengan berlindung di balik tameng sejarah dan religi.” Traver mengakhiri ucapannya.

            Zion? Tanah yang dijanjikan?. Semuanya mengiang-ngiang di kepalaku. Aku berusaha diam menutupi rasa penasaranku. Sebenarnya aku tidak nyaman dengan Yuo berada di sampingku, apa yang ia lakukan, mendengarkan ratusan kosa kata yang ia tak mengerti sedikitpun : bagus sekali.



***



            Malam semakin dingin, sementara desiran angina terus menghujam, membangunkanku dari lamunan panjang, ingatkanku pada dosa yang telah kulakukan. Ya…, Rob ikhlaskan hati dan jiwaku menerima cobaan-Mu agar aku yahin akan cinta-Mu  yang abadi di dunis ysng fana ini.

“Ternyata kau memiliki stok air mata yang banyak, Aisyah!” Sahut sebuah suara yang tiba-tiba muncul dari arah samping kiriku, yang cukup mengejutkanku. Ternyata Traver, ternyata ia sangat tinggi, mungkin 183 cm. wajahnya putih, sehingga aku bias melihatnya meskipun dibawah cahaya bulan yang remang-remang. Dalam sedetik ku melihat mata birunya menyala di tengah kegelapan : begitu indah. Aku menengok ke arahnya sebentar dan kembali menaruh pandanganku kedepan. Entah apa yang kulihat diantara warna hitan malam, mungkin lampu-lampu rumah yang berwarna-warni.

“Apa yang sedang kau lakukan disini, menyendiri? Ini malam yang dingin, you know??” lanjutnya.

“Aku sedang menikmati malam yang tenang.” Jawabku, sedikit dibuat-buat. Refleks dating dari kakiku, dengan spontan aku melangkahkan kakiku kearah kanan, menurutku 1 meter adalah jarak yang cukup aman antara aku dan Traver.

            Dilihat dari jarak 1 meter, Traver terlihat seperti orang arab, hidungnya, alisnya bibirnya,. Yang membuatnya tampak seperti orang amerika adalah warna mata, rambut dan kulitnya saja. Mungkin ia blasteran, mungkin.

“Dan kau…, apa yang kau lakukan disini?” Tanyaku yang lebih mirip seperti sebuah introgasi.

“Sama sepertimu. Menikmati malam yang tenang.” Jawab pria kekar itu, mencontek kata-kataku.

            Penampilannya begitu tenang dan cool. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket kulitnya yang terlihat sangat mahal. Tunggu…., aku menangkap sebuah kerutan di dahinya yang tidak bias menyembunyikan bahwa ia sedang dalam keadaan gelisah. Tapi aku coba tidak memikirkannya, bagiku itu adalah urusannya.

“Hmm…, lagi-lagi gencatan senjata” Ucap Traver memecah keheningan antara kami.

“Hmmm…, ya, setelah saling serang, apa mereka piker ini sebuah permainan?” Jawabku agak geram.

“ya, benar. Aku tak mengerti. Pertama, Hamas mengitimkan roket menuju Israel” tambahnya.

“lalu Zionis itu membalas dengan melancarkan serangan udara yang disebut Operation Cast Lead” Tambahku lagi.

“dan setelah hal besar itu mereka menyatakan gencatan senjata” ucap Traver, sementara matanya menerawang entah kemana. “Aku tidak pernah bias mengerti akan taktik mereka, aku tidak pernah bias membaca pkiran mereka, apa yang sedang zionis-zionis itu persiapkan dalam gencatan ini. Arrrgghhh….!!!” Traver terlihat frustasi, ia berjongkok dengan posisi tangan yang mengacak-acak rambutnya sendiri, ya suatu ekspresi yang bagiku tak perlu ia lakukan.

            Aku teringat kembali akan kata-kata yang ia ucaokan pagi tadi, tentang tanah yang dijanjikan, dan akupun penasaran bagaimana bisa ia begitu fasih berbahasa kami.

“Traver…., emmm, aku ingin menanyakan sesuatu padamu” tanyaku padanya sambil ikut berjongkok sepertinya.

“Apa? Katakana saja!” jawabnya sambil membereskan kembali rambutnya.

“Apa yang kau maksud dengan ‘tahan yang dijanjikan’?” tanyaku padanya, memcoba memastikan aku tidak terlihat bodoh.

“hahahahahaa…, kau membuatku geli. Bagaimana kau tidak bias tahu itu? Kau penduduk asli Palestina kan?” dia menertawaiku seolah-olah ini semua memang lucu.

“Aku benar-benar tidak tahu!!” aku merasa nada bicaraku meninggi, atau bias dikatakan menutupi wajahku yang terlihat sangat bodoh.

“Kau benar-benar tak tahu dan ingin tahu?” jawabnya sambil menatap mataku lekat-lekat.

“Ya…, dank au tahu menatap seorang wanita yang bukan muhrim seperti itu tidaklah sopan!!!” jawabku sambil berdiri kembali.

“Upss, sorry. Baiklah akan kuceritakan.” Ujarnya dan terduduk diatas pasir. Suasana hening sejenak, Traver tak juga membuka mulutnya, ia malah tersenyum yang menunjukkan lesung pipit di pipinya. Ia melihat kearahku yang mulai kesal.

“Baiklah…., ‘Zionisme’ berasal dari kata Ibrani “zion” yang artinya karang. Maksudnya merujuk kepada batu bangunan Haykal Sulaiman yang didirikan di atas sebuah bukit karang bernama ‘Zion’, terletak di sebelah barat-daya Al-Quds atau Jerusalem. Bukit Zion ini menempati kedudukan penting dalam agama Yahudi, karena menurut Taurat, “Al-Masih yang dijanjikan akan menuntun kaum Yahudi memasuki ‘Tanah yang Dijanjikan’. Dan Al-Masih akan memerintah dari atas puncak bukit Zion”. Zion dikemudian hari diidentikkan dengan kota suci Jerusalem itu sendiri. Jelas??” Ia menjelaskan panjang lebar, hebat ia berwawasan luas.

            Traver begitu haval dengan nama-nama daeerah di Gaza, ia fasih berbahasa kami, ia tahu seluk beluk tentang kami, bahkan ia lebih banyak tahu tentang zionis, seperti ia begitu mengenal bahkan akrab dengan ideology orang Yahudi itu. Padahal ia adalah orang barat, Amerika. Sedikit tidak aneh karena di Amerika banyak sekali orang Yahudi.

“Lalu.., bagaimana bisa kau begitu fasih menggunakan bahasa kami? ” tanyaku lagi.

“karena aku pintar!!” jawabnya singkat sambil berdiri dan pergi.



***

            Kini aku telah berada di Libanon, aku memanfaatkan masa-masa gencatan senjata untuk cepat-cepat keluar dari tanah kelahiranku, meskipun itu berat. Aku membawa Zara bersamaku, ia adalah anak yatim piatu, di pengungsian ia begitu dekat denganku dan aku menganggapnya adikku sendiri.

            Traver, ternyata ia adalah mantan zionis yang menjadi buronan para zionis. Traver tertangkap ketika ia sedang berada di Jerussalem, saat itu ia telah menjadi mualaf, dan dibunuh di tempat. Raver yang malang, semoga Allah melindungimu. Amin.

            Sang Zionis masih sangat geram, bahkan sangat geram. Ada sesuatu yang Traver ambil dari mereka (Zionis) yang telah Traver berikan kepada Hamas. Apapun hal itu, semoga akan membawakemenangan bagi kami. Dan satu hal lagi, Traver telah mengubah namanya menjadi Ahmad Ali Yusuf, nama yang indah seperi orangnya.

            Ada hal yang tidak bisa ku lupakan dari Traver, ia pernah bercerita padaku disaat aku benar-benar sedih dan putus asa, ia tulis dalam sebuah surat  yang ia tulis untukku. Kau benar Ahmad Ali Yusuf, engkau benar. Semoga Allah mempertemukan kita dalam keadaan bahagia. Amiin



.
Untuk Aisyah,
Di tanah penuh berkah.

Assalamu’laikum ukhti..
        Mungin saat kau membaca surat ini, entah aku telah berada dimana. Namun kesedihan dan keputus asaanmu selalu mengiang-ngiang di kepalaku. Kau pernah berkata, hidup ini tidak adil, kau tidak pernah merasakan kebahagiaan, kebebasan, seperti warga dunia yang lain yang hidup normal. Ingatlah ceritaku ini Ukhti!
        Aku tinggal dan besar di Amerika, tanah yang orang-orang sebut sebagai surge dunia. Ya.., memang disna adalah surge dunia, tidak adak aturan-aturan yang mengikat dan hak asasi manusia sangat di junjung tinggi. Disana bebas.., benar-benar bebas.., disanalah surge, dimana tak ada batasan untuk berpakaian, laki-laki an perempuan tidak ada batasan. Nikmatkan Aisyah? Tapi kau tahu…, itulah racun dunia yang akan membawaku pada api neraka yang menyala. Jadi kesimpulannya, Ukhi. Nikmat yang sangat nikmat adalah nikmat iman islam yang sekarang kau rasakan di tanah yang penuh akan sejarah tentang nabi-nabi Allah.
        Aisyah…, semoga kau mengerti semua ini. Semoga Allah selalu melindungi kita semua, Amin. Aku berharap kita bias bertemu lagi di surge, kelak. Wassalam.

Yang menyayangmu…,
Ahmad Ali Yusuf (Benzamin Traver)

           






Rabu, 30 November 2011

Malam 27 November 2011

Entah mengapa aku suka atmosfir ini. Duduk di atas balkon teras, memandangi cahaya kilat yang memantul mewarnai lantai yang basah. Aku suka menemani hujan yang sedang menangis tersedu-sedu. Aku suka melihat amukan petir yang murka. Takkan ku hiraukan desiran angin yang menikam bagai belati, karena malam ini langitpun bersedih hati. Ku akui aku takut, karena amukan petir tak pernah bersahabat, namun tetesan berjuta kubik air itu adalah simfoni yang indah, sebuah maha karya dari sang penguasa. Sekali lagi, aku suka malam ini.

tugas


Unsur-Unsur Resensi
Kelengkapan
Uraian
1.       Identitas buku
a.       Judul


b.      Nama Pengarang


c.       Kota dan nama penerbit


d.      Edisi penerbitan


e.      Tebal buku


2.       Ringkasan cerpen
3.       kepengarangan
a.       latar belakang


b.      kepenulisan


c.       karya-karyanya


d.      gaya pengarang


4.       Keunggulan dan kelemahan
a.       Tema


b.      Amanat


c.       Alur


d.      Penokohan


e.      Latar


f.        Bahasa


Kesimpulan dan saran

Sabtu, 26 November 2011

Cerita Di Tanah Gaza


 Malam itu, bom-bom terus bernyanyi, itu adalah malam kesekian kalinya aku takut untuk tertidur. Entahlah, aku sudah lupa bagaimana rasanya tertidur dimalam yang sunyi, malam yang gelap, malam dimana ada seribu bintang, malam dimana ada seribu satu mimpi. Kini malam menjadi penuh suara yang membisingkan telinga, bahkan langit pun selalu bercahaya. Jantungku seakan berlari manakala terdengar jelas suara pesawat perang milik Zionis yang berterbangan. Kau tahu, mereka bisa menjatuhkan meriam dimana saja dengan alasan disini ada Hamas, disitu ada Hamas dan apa peduliku.
            Masih teringat jelas dalam ingatan, di pagi hari disaat Maher, kekasih hatiku pergi meninggalkanku untuk selama-lamanya. Pagi itu adalah pagi yang sangat menyakitkan dan tak akan pernah terlupakan dalam hidupku untuk selama-lamanya. Saat itu situasi begitu genting, para Zionis yang keji dan kejam terus memuntahkan rudal-rudal, sementara daratan dipenuhi dengan meriam-meriam. Maherku yang pemberani keluar dari rumahnya yang tak jauh dari tempatku dan keluargaku tinggal. Dengan gagah dan tanpa gentar sedikitpun, ia berjalan membusungkan dada dengan wajah penuh kemurkaan, wajah yang belum pernah aku lihat sebelumnya, wajah yang selalu bersembunyi di balik halus tatapannya, wajah yang baru ku tahu di balik ketampanannya. Ia menengadahkan kepalanya ke langit, mata hijaunya yang tajam tepat mengarah ke pesawat yang berlalu-lalang.
“Demi Allah…, aku akan melawan kalian manusia-manusia keji. Tunggulah azab dari Allah, Tuhanku!!!” Teriaknya dengan suara yang lantang, suara yang tegas, suara yang membuat sekujur tubuhku merinding, suara yang tersembunyi dibalik lembut ucapannya.
“Aku tak takut pada kalian, Zionis-zionis keji!!!” Maherku terus berteriak.
            Aku tercengang, saat itu aku tak mengenalnya. Ia sangat berbeda, ia..,ia.. lebih menakjubkan. Aku melihat kepedihan dimatanya : ia menangis. Aku khawatir padanya, aku khawatir akan apa yang dilakukannya. Aku berteriak sekuat tenaga, dibalik jendela kamarku.
“Ya…. Maher, ya… Habibi,  kembalilah kerumahmu. Demi Tuhan aku akan sangat menyesal jika sesuatu terjadi padamu Maherku…!!!” Ia tak mendengarkanku, untuk pertama kalinya ia mengabaikan kata-kataku. Namun tak lama kemudian matanya menatapku, dan ia menjawab “Ya… Aisyah, aku tak akan membiarkan para bedebah-bedebah it terus mengusik hidup kita. Aku ingin hidup tenang bersamamu, bersama anak-anak kita , kelak. Bagaimana itu bisa terjadi jika mereka masih berada di tanah kita, tanah Palestine.” Belum sempat aku menjawabnya, sebuah meriam mendarat tepat di badannya yang tegap. “MAHERRRR……” Aku berteriak, aku menangis, aku akan mati, aku tak bisa bernafas. Aku berlari menuju pintu keluar, namun ibuku datang, ia memelukku “Aisyah… jangan engkau keluar saying. Ibu tak ingin hal itu terjadi kepadamu” Katanya sambil mengusap punggungku.
“di luar…, disa..na.. Ma..Ma..herku ibu, Maherku telah HANCURRRR….!!!”aku masih histeris, suaraku tersedu-sedu, rasanya ada belati menusuk jantungku: SAKIT. Bagaimana tidak, orang yang aku sayingi dalam hidupku hancur berkeping-keping menjadi onggokan daging. Ia mati, ia hancur, ia terbunuh DI DEPAN MATAKU SENDIRI.
            Ridwan, adikku turun dari ranjangnya, ia memanggilku dan seketika lamunanku terbuyarkan. Ia berdiri disampingku, mengikuti arah mataku memandang : jendela. “Kakak…, kau menangis? Kau takut dengan penjahat-penjahat itu?” tangan mungilnya menunjuk pada langit yang ramai akan pesawat yang berterbangan. Ia masih berusia 5 tahun, tapi ia cukup dewasa  dalam menghadapi hidup kami yang seakan terteror. Aku yang sedari tadi berdiri, dengan perlahan duduk diatas ranjang adikku. Aku memeluknya.
 “Kakak hanya teringat ayah dan ibu”
“Kakak.. aku takut. Mereka jahat.” Ucapannya dalam pelukku.
“Jangan takut saying… percayalah Allah akan melindungi kita. Sekarang tidurlah” aku merebahkan kembali dia ke ranjangnya. Ridwan memejamkan matanya, namun tangannya menggenggam erat tanganku.
“Kakak.. kapan semua ini akan berakhir?” Malaikat kecil itu bertanya lagi, namun matanya masih terpejam. Air  mataku tumpah, tak tertahankan. Betapa malangnya adikku. “Berdo’alah sayang, berdo’alah agar penjahat-penjahat itu segera pergi dari sini!” jawabku sambil mengusap air mata yang mulai menetes di kedua matanya yang masih terpejam.
“Kak.., beritahu aku, dimana ayah dan ibu?” Ia bertanya lagi, namun sekarang matanya telah terbuka.
“Mereka ada di tempat paling indah di sisi Allah.” Jawabku.
“Dimanakah itu?” ia bertanya lagi.
“Di tempat yang disebut Surga.” Jawabku lagi.
“Apa itu Surga?” Ia terbangun dan duduk
“Surga adalah seindah-indahnya tempat di sisi Allah. Dimana di dalamnya tak ada kesusahan…” Jawabku.
“Apa semua orang bisa masuk surga?” Matanya menatap kearahku.
“Tidak sayang, hanya orang-orang yang baik, sabar, mematuhi perintah Allah-lah yang akan tinggal disana.”
“Lalu mereka, orang-orang jahat itu. Dimana Allah akan menyimpan mereka?” tanyanya lagi.
“mereka akan disimpan di tempat seburuk-buruknya Neraka. Tempat yang penuh dengan api yang akan membakat tubuh mereka.” Jawabku
“Aku mau ke Surga Kak…” Ia melingkarkan tangannya di penggangku.
“iya sayang… kau akan kesana. Kau adalah anak baik, jadilah anak yang soleh.” Aku memeluknya dan mengecup keningnya yang basah akan keringat.”Sekarang, tidurlah!” lanjutku. Ia tak mengucapkan sepatah katapun, ia hanya menganggukkan kepalanya. Ia pun tertidur, entah terlelap atau tidak, karena suara-suara bising masih terdengar jelas di luar sana.
            Aku menatap adikku. Ia telah tertidur, ia telah berada di alam yang hanya di pemiliknya : alam mimpi. Aku tahu, dalam kenyataan, ia tak dapat melengkungkan bibirnya sekedar untuk tersenyum. Namun, malam ini ia tersenyum dalam tidurnya, senyum yang sangat indah, senyum yang entah kapan lagi aku bisa melihatnya. Aku berdoa agar Allah memberikan ia mimpi yang sangat indah, mimpi yang akan membuat ia terlupa dengan beban hidupnya. Aku membuka kerudungku, ku arahkan langkah menuju kamar mandi : ku ambil air wudhu.
***
            Aku menatap wajahku di cermin, terlihat wajah yang pucat, mataku berkantung dan sembab, ku maklumi karena kurang tidur. Ridwan masih tertidur, jelas saja karena semalam ia tidur larut sekali. Pagi itu tak seperti biasanya, ada sesuatu yang berbeda, bahkan sangat berbeda : terasa damai. Aku bertanya pada hatiku, apakah semuanya telah berakhir? Apakah Hammas telah menang?
            Saat itu, hanya berita dari TV-lah yang bisa menjawab semua pertanyaanku. Aku menghidupkan TV, mencari-cari channel berita. “Dapat!!!” Kataku setelah menemukan berita yang ku inginkan. Aku pun membesarkan volumenya.
Gaza News :
            Setelah dewan keamanan PBB mengadakan perundingan beberapa waktu silam, akhirnya tepat pada pagi tadi PBB mengumumkan hasil dari perundingan. Sekjen PBB mengumumkan pada Palestine dan Israel untuk melakukan gencatan senjata, mengingat banyak warga sipil yang menjadi korban. Keputusan itu sangat mengecewakan bagi kedua belah pihak teutama masyarakat Palestine yang sudah sangat resah. “Konflik ini sangat pelik, tidak mudah untuk menyelesaikannya” Ujar Ban Ki Moon yang tak lain adalah Sekjen PBB saat ini. Dewan keamanan ber…
                Dengan kesal kumatikan TV itu. Bodoh sekali aku telah berfikiran bahwa konflik yang telah merenggut orang-orang yang ku sayangi ini telah usai. “Aisyah…, asal kau tahu saja, PBB tak akan pernah bias memecahkan masalah kita selama Dewan keamanan masih berpihak kepada Israel.” Ujar sebuah suara dari balik pintu dapur, yang tak lain adalah suara Bi Nuroh, bibiku sekaligus keluargaku yang masih tersisa selain Riwan, adikku. Aku tak menjawab sepatah katapun. Dengan perlahan namun pasti, aku bangkit dari dudukku dan berjalan kearah kamar Ridwan. Ia masih tertidur, dengan perlahan aku membuka jendela kamar dan seketika sinar mentari pagi membanjiri ruangan. Riwan terbangun dengan mata yang ditutupi tangan mungilnya, “Silau…” ujarnya. Aku hanya tersenyum kearahnya.
“Apa ceritamu pagi ini?” Tanyaku padanya, pertanyaan yang selalu ku ajukan.
“Kau tidak akan percaya akan mimpiku tadi malam, Kak!!” Katanya dengan riang.
“Apa yang kau impikan?” Tanyaku penasaran.
“Aku menyusuri jalanan yang indah. Di sana damai dan sejuk sekali. Rumput-rumput begitu hijau dan bunga-bunga indah bermekaran. Tempat itu seperti sebuah taman…., taman yang sangat indah, dan tahukah kau ada siapa disana?” tanyanya yang ku balas dengan sebuah gelengan kepala.
“Disana ada Ayah dan Ibu, mereka melambaikan tangan padaku “Ridwan… kemarilah!!!” seru mereka padaku. Aku berlari kearah mereka. Aku memeluk ibu dan rasanya seperti ada di pelukanmu Kak, terasa begitu hangat dan nyaman.” Ridwan berhenti bercerita. Aku mengangkat kedua alisku yang mengisyaratkan : lanjutkan. Tak lama, Ridwan pun melanjutkan ceritanya.
“Ibu menanyakan kabar kita. Aku mengatakan semua yang terjadi, semuanya… semuanya… tentang penjahat-penjahat itu, Kak. Ibu memelukku dan menangis, ia menyuruhku untuk tetap tinggal disana bersama mereka.”
“Lalu apa jawabanmu?” Tanyaku.
“Aku akan minta izin padamu, Kak. Setelah itu semuanya hilang.. aku tidak bisa melihat apapun, rasanya silau dan akhirnya aku terbangun.” Ia mengakhiri ceritanya.
“Aku harap nanti malam aku yang akan bermimpi seperti itu” Kataku sambil memeluk adik kesayanganku.
***
            Sudah beberapa hari aku bisa merasakan kedamaian. Aku tahu ini bukanlah akhir, melainkan hanya sebuah gencatan senjata yang hanya sementara. Namun aku tak pernah berhenti berharap, karena harapan adalah penyambung nafas kehidupanku, harapan adalah jiwa dlam hari-hariku yang terasa telah mati, aku selalu berharap di pagi hari saat ku buka kedua mataku, perang telah selesai, aku bisa hidup seperti warga dunia yang lain : sekolah, berkumpul bersama keluarga, bermain bersama sahabat, hidup sebagaimana remaja pada umumnya.
            Aku bersiap-siap untuk pergi ke pasar Gaza, yaa.. itu adalah hal yang paling aku sukai karena aku bisa beremu dengan teman-temanku. “Bi…, aku berangkat. Assalamu’alaikum!” Sahutku sambil mengendarai sepeda kesayinganku. “ya…, hati-hati di jalan, nak!” jawab sebuah suara dari dalam rumah yang ku tahu itu adalah suara lembut Bi Nuroh.
            Alhamdulillah, tak hentinya aku memanjatkan syukur kepada Allah yang telah memberikan kedamaian di kotaku, Gaza. Pasar terasa berbeda dari sebelumnya. Kali ini banyak sekali orang yang datang, sekedar berjalan-jalan atau membeli bahan makanan sama sepertiku.
“Assalamu’alaikum Ukhti…!” Sahut sebuah suara lembut di samping kiriku.
“Wa alaikum salam..” Dengan sedikit terkejut aku menjawab dan menengokan kepalaku ke arah suara itu.
“Subhanallah… Fatimah.. apa kabar?” lanjutku dengan girang.
“Alhadulillah baik Ukhti, Ukhti sendiri bagaimana? Lama tak berjumpa, kau semakin cantik saja.” Jawab Fatimah yang tak lain adalah teman lamaku.
            Aku dan Fatimah berbelanja bersama sambil berbincang-bincang tentang segala hal, termasuk saat aku kehilangan Maher. Tak lama kami berbincang, sebuah dentuman yang sangat keras menggemparkan manusia seisi pasar Gaza. “Astagfirullahalaziim…., apa itu?” Sahut sebuah suara dari kejauhan. Jantungku berdebar keras sekali, ada apa ini, apa yang terjadi, suara apa itu, hatiku terus bertanya-tanya. “Apa yang terjadi tuan?” Tanyaku pada seorang yang tengah berlari dari arah pemukiman penduduk menuju ke pasar. “Ten..ten.. tentara Zionis telah memporak-porandakan pemukiman penduduk.” Jawab pria tua itu dengan tersengal-sengal. Mendengar hal itu, Fatimah yang berdiri di sampingku langsung berlari tanpa mengucapkan salam sedikitpun, ia begitu tergesa-gesa, wajahnya penuh kekhawatiran. Pikiranku melayang jauh, terlintas wajah Ridwan dan Bibi Nuroh di kepalaku. Bagaimana dengan keadaan mereka? Aku berlari menuju sepedaku yang tegeletak di pasir. Entah mengapa air mataku bercucuran.
            Aku telah sampai dirumah, bukan… bukan rumah, tapi sebuah tempat dengan puing-puing. Jantungku seakan berhenti berdetak, dadaku sesak sekali rasanya aku tak bisa bernafas. Kutemukan tubuh adikku bercucuran darah : TAK BERNYAWA. Tubuhnya tertindih reruntuhan tembok yang mampu meremukan tulangnya. Sementara itu, Bi Nuroh, Bibiku…, ia tergeletak dengan kerudung yang bewarna merah : darah.
“Bi, bangun!!!!” teriakku sambil memangku kepalanya. Aku tahu, semuanya adalah sia-sia, mereka telah pergi dan Ridwan, ia telah pergi meninggalkanku sendiri.
“Sayang… bangun!!” Bisikku di telinga Ridwan, aku begitu frustasi.
            Ada seorang lelaki berwajah Asia menghampiriku, entah siapa dia. Aku hanya melihat sebuah tulisan menggantung di dadanya : RELAWAN.
come with me, this place is not safe for you. I'll take you to the place of refuge. come on!!” katanya padaku, sambil mengangkat tubuhku.
            Aku ikut bersama lelaki itu, tak tahu kemana lagi aku akan pergi. Namun, ia… lelaki yang baik itu membawaku ke tempat pengungsian.  Saat itu aku tahu, mereka, para Zionis itu adalah orang, bukan… bukan orang, tapi monster yang telah membunuh keluargaku. Aku sendiri, benar-benar sendiri di padang yang fana ini, di tanah Gaza yang gersang.

~END~

Sabtu, 05 November 2011

SEBUAH PERTANDA

Aku berjalan menyusuri jalanan aspalyang penuh akan gemercik air hujan. Kabut tebal menutupi jalanku, dan hujan bertambah deras. Aku merasakan sekujur tubuhku lemas, seluruh tulangku terasa hancur, namun entah mengapa ada kekuatan besar yang mampu memaksaku untuk terus berjalan tegak. dengan kedua tangan bersilang di dada : Kedinginan. Diantara ribuan gemercik air yang jatuh, aku bisa mendengar jelas gemertak gigiku beradu menggigil.

Dalam dinginnya air hujan yang memenuhi tubuhku, aku merasakan aliran air hangat keluar dari mataku, mengaliri pipiku, dan jatuh menetes berbaur dengan kubik air : aku menangis. Telah jauh aku berjalan, namun jalanan aspal itu seperti tak berujung. Sementara kabut dan hujan masuh enggan untuk lenyap. Aku mulai merasa kedinginan, sangat dingin, namun ada perasaan lain yang mampu mengalihkanku dari tusukan pisau es yang di kulitku. Perasaan yang tak bisa kujelaskan "APA???". Rasanya ingin sekali aku berteriak sekencang mungkin dan berlari secepat pelari maraton, sayangnya aku telah berubah menjadi gagu, aku serasa mati rasa dan lemas.