keep your dream, hold it tight
terjatuh itu wajar, namun jangan terlalu lama tersungkur. berjalanlah walau harus tertatih :)
Selasa, 07 Agustus 2012
Mr. England "malibu I'm in love"
aku terduduk di ujung ranjang kamar hotelku, memandangi gaun yang Adam berikan. Kenapa dia begitu baik padaku. Tak lama Lisa dan Bryan datang mengejutkanku. Karena suasana hatiku sedang dalam keadaan baik, aku menyapa Bryan “hey.., bagaimana keadaanmu?” tanyaku pada Bryan. “seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja” jawabnya ketus. Bryan duduk di sofa dan mengobrol dengan Lisa. Mereka Nampak serius, tapi aku tak peduli. Aku hanya ingin malam ini cepat berlalu dan besok malam segera datang.
Saat aku terbangun, Lisa Nampak sedang membereskan barang-barangnya lebih tepatnya ia sedang berkemas. “lisa, where you’ll going?” tanyaku padanya. Ia tak menjawab bahkan ia malah menatapku tajam. Sepertinya telah terjadi sesuatu yang aku tak tahu. “what’s going on?” aku mencoba memberanikan diri untuk bertanya padanya, Lisa malah mebentakku “go away, I don’t ever want to see your face anymore!” Lisa pun pergi membawa kopernya dan membanting pintu dengan keras. Aku tak mau ambil pusing, itu adalah urusannya, aku benar-benar tak peduli.Setelah aku mandi, ponselku berdering. Bryan mengirimiku SMS :
Tempat selanjutnya adalah Malibu Pier. Wait for me!
Dia pikir aku mau pergi bersamanya, jadi obat nyamuknya. Aku bukan qiwi yang bodoh lagi. Aku menyimpan ponselku dan tak membalas SMS darinya. Namun tiba-tiba Adam menelponku.
“Qiwi, aku dilobi hotel tempat kau menginap. Saya nak berikan poto kita kemarin” sahut Adam di balik telepon.
“benarkah?” jawabku senang
“iye, cepatlah kemari! you cantik kali!”
“aku tidak sabar melihatnya. Baiklah tunggu aku. bye”
Aku segera mengenkan pakaianku dan cepat-cepat pergi menemui Adam.
Adam melambaikan tangan padaku dan aku pun berlari menghampirinya. “ini” Adam memberikan beberapa poto padaku. “waw.., aku suka semua ini. Ini bagus” pujiku padanya.
“by the way, kau sendiri disini?”
“iya”
“bagaimana kalau kau ikut denganku ke lokasi pemotretan” Ajak Adam
“ah.., baiklah” jawabku
Aku duduk memperhatikan Adam dari jauh. Sesekali aku melambaikan tanganku padanya. Tiba-tiba Adam menghampiriku.
“sepertinya gaun ini cocok untukmu. Macem mane kalau you jadi model I?”
“apa? Ah.. tidak tidak. Terima kasih, tapi..”
“tapi apalah, nak cobalah! Aku akan menunggumu disana.” Adam pun kembali ke lokasi pemotretan
Aku jadi modelnya? Yang benar saja. Apa dia mau menghancurkan karirnya. Meskipun aku enggan, aku harus melakukannya, karena akupun ingin terlihat cantik. Mengapa sulit sekali berpose di depan kamera, itu membuatku stress. Dengan sabar Adam terus mengarahkanku dia berkata “must be natural!” Adam pun meenyerah, ia menyuruhku berdiri membelakangi kamera lalu kemudian dengan keras dia berteriak “AWWW” itu membuat semua kru yang ada disana kaget, termasuk aku yang lanngsung berbalik kaget daaaannn ‘jepret’ berhasil, ia berhasil mengambil wajahku yang sedang kaget.
“kenapa harus ekspresi kaget?” protesku pada Adam, ia malah tersenyum dan meremehkan kemampuanku di depan lensa kamera “bukannya saya dah cakap, must be natural. It’s natural enough” dia membela diri, dan memamerkan hasil jepretannya dengan bangga.
Hari ini aku kembali menghabiskan waktu dengan Adam, by the way Bryan dan Lisa apa kabar? Semoga mereka bersenang-senang sama sepertiku, tapi bukankah Lisa dan Bryan spertinya sudah putus (sepertinya). Aku mengecek ponselku, disana ada 56 panggilan tak terjawab semuanya dari Bryan. Aku pun menelponnya balik, namun sayang ia tak mengangkatnya. Aku yakin Bryan sedang marah dan kesal padaku.
“Adam, sebentar lagi sore. Aku harus kembali” sahutku
“tak bisa ke kite melihat sunset terlebih dulu?” tanyanya
“maaf” jawabku lemah
“ini kedua kalinya kau menolak. baiklah, aku mengerti. Nanti malam aku akan menjemputmu. Ok!”
“iya” jawabku. Dan kami pun berpisah.
Aku sangat kaget saat ku membuka pintu kamar, di dalam sudah ada Bryan yang sedang terduduk di sofa.
“kau sudah datang” sahutnya sambil mematikan televisi
“apa yang kau lakukan di kamarku?” Tanyaku kaget
“aku menunggumu. Meminta klarifikasimu” Bryan berdiri dan menghampiriku di ambang pintu.
“bukankah aku bilang kita akan pergi ke Malibu Pier” Sahut Bryan sambil berjalan ke arahku.
“aku.. aku.. tadi aku..” aku begitu gugup dan ketakutan. Sepertinya Bryan benar-benar marah.
“bermain dengan pria asing itu?” Tanyanya sambil terus menyudutkanku
“iya” jawabku lantang.
“kau menyebalkan sekali. Kau membuatku lama menunggu sendiri ” Bentak Bryan
“Bryan! Jangan menyalahkanku, kau sendir itu karena kau mebiarkan Lisamu itu pergi. Jangan lampiaskan kekesalanmu padaku!” aku tak kalah marahnya.
Bryan hanya menatap mataku tajam, ia pun pergi keluar.
Jam sudah menunjukkan jam 7 malam, aku sudah bersiap-siap untuk pergi bersama Adam. Aku senang melihat diriku sendiri di cermin, Adam telah mengembalikan kepercayaan diriku yang selama ini hilang karena penghinaan Bryan terhadapku. Aku dan Bryan keluar kamar bersamaan. Aku sangat terkejut melihat penampilannya yang WOW keren, seperti bule yang mau apel malam mingguan. Aku memperhatikannya dari atas ke bawah. Dia akan pergi kemana? dasar bule menyebalkan. Apa dia mau pergi kencan? Keterlaluan.
Bryan pun sama, dia melihat ke arahku dari atas ke bawah, seakan tak percaya dengan apa yang dia lihat. “kau Qiwi?” tanyanya tak percaya. Dengan bangga aku membenarkannya. “Gaunmu indah” sahutnya. Apa? Gaunku yang indah, yang benar saja. Kenapa sulit baginya untuk mengakui bahwa aku terlihat cantik. “”benarkah? Jasmu juga bagus” jawabku ketus, tapi ia malah membalasnya dengan senyuman, kemudian dia berputar dan berkata “ah.. ini penampilan yang special untuk orang yang special. Bagaimana, kau suka? Bukankah kau juga begitu? Penampilanmu tidak mengecewakan. Baiklah, sampai ketemu bye” Bryan berbalik lagi dan dia memegang daguku untuk sesaat “kau cantik” setelah mengucapkan itu dengan raut wajah yang bersahabat, Bryan langsung pergi. Dia mebuatku sedih, wajahnya adalah wajar orang yang sedang jatuh cinta. Apa aku tidak bisa sedikit saja ada difikirannya, atau setidaknya dia mempunyai perasaan padaku 10% saja. Ini sangat menyakitkan saat harus melihat ia berdandan yang tampan untuk wanita lain. Ini menyakitkan saat menyaksikan bagaimana ia jatuh cinta. Mencintainya masih saja menyakitkan.
Adam sudah menungguku di depan hotel, dia melambaikan tangannya padaku sambil tidak lupa untuk tersenyum manis.
“apa kau sudah lama menunggu?” tanyaku
“ah tidak, saya baru saja sampai” jawabnya. Ia pun membukakan pintu mobil untukku. Kami pun pergi ke acara pameran seni itu.
Adam membawaku untuk menyapa designer-designer terkenal termasuk yang dari Indonesia. Banyak orang menyangka aku adalah kekasihnya. Ah itu sangat berlebihan.ngomong-ngomong apa yang sedang dilakukan Bryan ya, sedang bersama siapa ia sekarang? Karena Lisa sudah pergi tadi pagi. Mudah sekali dia mendapatkan pengganti, bahkan tidak sampai satu hari.
“Qiwi?” panggil Adam membuyarkan lamunanku
“”ya?” jawabku
“apa yang kua fikirkan?” tanyanya sambil memberiku segelas minuman manis.
“ah tidak. Aku hanya sedikit lelah” jawabku berbohong, sebenarnya aku sedang tidak semangat. Ini semua gara-gara Bryan.
“kau harus bertahan. Karena setelah ini kita akan pergi makan malam”
“apa?”
“kau keberatan?”
“tidak, hanya saja aku benar-benar sangat lelah. Bisakah kau mengantarkanku kembali ke hotelku saja”
“begitu ya, baiklah. Aku tak akan memaksa. Ayo!”
Aku pun kembali ke hotel. Di lobi Bryan tiba-tiba datang menghadang aku dan Adam. Ia melihat secara bergantian antara aku dan Adam. Lalu, dia pun menarikku. Aku tidak terima dengan perlakuannya, aku pun menghempaskan tangannya, namun ia meraih kembali tanganku dan menarikku pergi, namun tiba-tiba Adam menghampiri Bryan “lepaskan dia!” sahut Adam. Bryan melepaskan genggamannya, namun dia malah menghajar Adam. Aku kaget dibuatnya. Untunglah keamanan langsung datang dan memisahkan mereka. Aku meminta maaf kepada Adam atas kelakuan Bryan padanya, dan akupun langsung menarik Bryan pergi dengan kesal. Setelah sampai di pintu kamar, Bryan menghempaskan genggaman tanganku. “lepaskan aku!” teriaknya. Aku pun melepaskan genggamanku.”apa yang kau lakukan?” aku marah padanya “apa yang kau lakukan?” dia balik bertanya padaku .“”apa?” aku tak mengerti. “apa kau begitu membenciku?” lanjut Bryan. Bryan pun masuk kekamarnya dengan marah.
Aku menjatuhkan tubuhku ke atas tempat tidur. Aku begitu lelah sangat lelah. Kenapa aku menangis, ini sangat menyedihkan. Ibu aku ingin pulang besok adalah hari terakhir. Aku ingin besok waktu berputar dengan cepat, hingga aku bisa berada di pelukkanmu ibu, Bryan bukan kebahagiaanku, semoga nanti ibu mengerti. Dia membenciku ibu. Aku bangkit dan ingin menelpon ibuku, namun disana ada SMS dari Bryan:
Kali kau harus datang. Jam 8 di Malibu Pier.
Pesan itu dikirimkan pukul 6 sore dan pasan itu tidak terbuka olehku. Jadi, orang yang ingin dia temui adalah aku. Jadi itu alasan kenapa ia marah. Jadi, ia berdandan hanya untuk bertemu denganku. Aku teringat kembali saat kami bertemu di depan pintu kamar, dia tersenyum padaku dan mengatakan sampai ketemu, jadi dia menganggap aku akan menemuinya. Aku cepat-cepat menghapus air mataku dan pergi keluar. Aku telah berdiri di depan pintu kamarnya namun aku tak berani mengetuknya. Aku tak tahu apa yang harus aku katakana padanya terlebih dahulu, mungkin aku begitu mengecewakan baginya. akhirnya akupun pergi, aku pergi ke Malibu Pier. Aku menemukan sebuah meja di tengah dermaga dengan lilin yang telah padan di tengahnya. Seharusnya tadi aku duduk disini bersamanya.
Entah kenapa ini membuat air mataku kembali mengalir deras. Namun aku begitu bahagia, sangat bahagia. Akupun mengirimkan SMS pada Bryan bahwa aku akan menunggu Bryan di Malibu Pier sampai ia mau datang. Aku menunggunya selama 3 jam, namun ia tak juga datang. Angin laut sudah menbuatku hampir mati kedinginan. Tiba-tiba seseorang memakaikanku mantel dari belakang “bodoh” ucapnya yang ku tahu dia adalah Bryan. Kami berdua saling mematung, bahkan aku tak percaya, aku tak tahu harus berbicara apa. “ayo, pulanglah!” Bryan berbalik namun aku langsung memeluknya dari belakang “maaf, maaf. Seharusnya aku membaca pesanmu lebih awal” aku menangis. Bryan tak berkata apapun. “”aku menyesal.. aku menyesal.. tolong maafkan aku!” pintaku dalam tangis. Bryan melepaskan pelukanku dan berbalik ke arahku.
“seharusnya akulah yang meminta maaf padamu, seharusnya aku berterima kasih padamu. Aku orang yang tak bertanggung jawab, aku orang yang kejam, aku tak punya hati” Bryan menghapus air mataku.
“aku begitu bodoh telah meninggalkanmu, dan kau hamper mati tenggelam, aku menyakiti perasaanmu selalu, aku selalu kasar tehadapmu. Tapi kau tak membenciku. Maaf.. maaf.. maafkan aku!” lirih Bryan yang lalu memelukku.”tetaplah berada di sampingku” bisik Bryan dan aku dengan senang hati mengangguk di pelukannya yang hangat.
Kami berjalan menuju hotel tempat kami menginap. Aku tidak pernah menyangka bahwa suasana akan secanggung ini, sesekali tangan kami beradu dan aku jadi salah tingkah dibautnya. Melihat tingkahku, Bryan tersenyum dan malah menggandeng tanganku erat.
“Bagaimana keajaiban ini bisa terjadi?” gumamku pelan, namun Bryan bisa mendengarnya, dia hanya tersenyum mendengarnya.
Tiba-tiba aku menghentikan langkahku. “Apa yang telah terjadi padamu?” tanyaku pada Bryan curiga. “setelah hubunganmu dengan Lisa retak, kau mau memanfaatkanku untuk kau jadikan pelarian?” lanjutku.
“Hey.. bicara apa kau ini? Aku dan Lisa sudah lama berakhir” jawabnya enteng
“kau piker aku percaya?”
“tentu saja kau percaya.” Aku hanya diam “sejujurnya sejak awal aku merasa ragu akan perasaanku. Lisa telah ku anggap sebagai sahabatku, ini semua rencanaku, tapi aku tak menyangka Lisa akan mencintaiku lagi, itu semua adalah rencanaku untuk menghindarimu. Semua yang ku katakan di rumahmu, aku membencimu, ada wanita lain. Semuanya bohong. Kau tahu? kupingku hamper lepas karena mendengar ibuku selalu membanggakan orang sepertimu. Ibu bilang, kau tidak pernah pacaran, karena kau yakin bahwa aku akan datang. Bodoh, kau harusnya tahu berapa kali aku pacaran. Semua tentangmu begitu menyiksaku. Tapi.., tapi jauh dari itu semua ternyata aku peduli dengan perasaanmu, dan Adam yang membukakan mataku”
“jangan bahas itu” jawabku mencoba mengalihkan pembicaraan. Kenapa suasananya jadi seperti ini.
“Bukankah sekarang aku telah bertanggung jawab atas perasaanmu?” tanyanya
Aku hanya menatapnya dan berjalan pergi mendahuluinya.
malam ini aku tidak bisa tertidur. Aku begitu takut jika aku terbangun, semuanya akan kembali ke keadaan semula, aku takut ini hanya mimpi. Aku tak percaya bahwa ini nyata, saat Bryan memelukku, saat dia memnggenggam tanganku. Ah aku sudah gila. Tiba-tiba ponselku berbunyi, itu SMS dari Bryan
“apa kau bisa tidur?” tanyanya
“aku super mengantuk” jawabku berbohong
“aku tak bisa tidur” balasnya
“kenapa?” tanyaku polos
“aku merindukan Lisa” jawabnya
Apa? Dia merindukan Lisa, aku tak percaya. Hebat dia bisa membuat moodku turun dengan drastic
“kalau begitu tidurlah, dan mimpikanlah dia!” balasku
“tidak aku tidak bisa tidur. Aku takut”
“takut apa?” tanyaku
“aku takut pangeran dari Malaysia akan mengambil wanitaku di kamar sebelah” jawabnya yang mebuat aku kembali tersenyum
“kalau begitu kau jangan tertidur. Aku takut” balasku
“takut apa ?” tanyanya
“aku takut, besok kau akan kembali menjadi Bryan yang menyebalkan” aku membalasnya dengan jujur
“apa kau piker akan seperti itu?” tanyanya
“tidak” jawabku yakin
“kalau begitu, tidurlah. Buktikan keyakinanmu besok!” jawabnya
“baiklah” jawabku
Aku bangun pagi sekali. Bahkan aku mungkin tidak bisa tidur. Aku mencoba mengingat-ngingat kembali kejadian tadi malam. Aku mengecek handphoneku dan melihat short massage tadi malam, ini nyata. Ibu aku bahagia sekali saat ini. Ibu seandainya kau tahu, jantungku berdebar sangat kencang saat ini, saat melihat wajahnya, saat melihat senyumnya, saat menyentuhnya,saat mendengar suaranya. Ibu ini bukan mimpi, SMS ini buktinya.
Ini adalah hari terakhirku berada di Malibu. Bryan mengajakku tur berkeliling. Sayangnya ia mengajakku ke tempat yang sudah pernah aku datangi bersama Adam. Bryan begitu kesal akan hal ini. Ini bukan sepenuhnya salahku.
“nampaknya kalian sangat dekat” gerutunya
“seperti itulah” jawabku enteng
“apa?” Bryan mengerem mobilnya secara mendadak
“aw.. Bryan apa yang kau lakukan?” aku tersentak
“maaf” ujarnya sambil kembali menyetir mobil
Terlihat sekali dia sangat gengsi untuk menujukan kecemburuannya. Dia malah diam padaku. Kami mendatangi pusat perbelanjaan, kami berbelanja oleh-oleh untuk orang rumah. “menurutmu apa yang ibumu suka?” tanyaku pada Bryan. Bryan Nampak berpikir “aku tahu” sahutnya bersemangat “ayo ikut aku!” lanjutnya. Kami pergi ke toko kaca. Disana banyak sekali kaca beraneka bentuk, warna dan ukuran. Bryan membawaku ke salah satu kaca yang besar dengan ukiran indah pada bingkainya. “Lihatlah, ibuku akan sangat menyukai ini” dia merangkul pundakku dari belakang. Aku melihat pantulan tubuhku dan Bryan dari kaca betapa bahagianya aku “kau akan membeli kaca ini? Aku rasa ini terlalu besar” tanyaku. Bryan mendesah “apa kau benar-benar bodoh?” Brian melepaskan rangkulannya dan pergi keluar. “Bryan, kau tidak jadi membelinya?” sahutku sambil mengejarnya sebenarnya aku sedang menggodanya haha. “tidak” jawabnya.
Aku mengejarnya yang sedang menyusuri pantai. Dia tak menghiraukan panggilanku sama sekali.”kau tidak membeli kaca itu. Kenapa?” Tanyaku “ibuku tak menyukai kaca itu” jawbnya sambil terus berjalan “kau bilang ia akan menyukai kaca itu” tanyaku lagi. Bryan pun berhenti, berbalik ke arahku. “dia menyukai bayangan yang dipantulkan cermin itu” aku terdiam dan OMG itu berarti, pantulan cermin . bukankah yang dipantulkan adalah bayangan aku dan Bryan. Belum sempat aku menjawab, bryan langsung meraih tanganku dan menggenggamnya dengan erat “ini yang dia inginkan sebagai oleh-oleh” ucap Bryan sambil menunjukkan genggaman itu padaku. Kami pun saling tersenyum satu sama lain.
“”Bryan, kenapa kau menyukaiku?” tanyaku
“apa aku pernah berkata aku menyukaimu?” jawabnya enteng
“benar. Kau tidak pernah mengatakannya” jawabku lemah. Bryan tersenyum.
“akhirnya aku tahu apa yang belum kalian lihat di Malibu” sahut Bryan yang lalu terduduk di pasir pantai
“apa?” tanyaku, yang duduk di pinggirnya
“lihatlah! Sebentar lagi kau juga tahu”
Aku mengangguk dan menyenderkan kepalaku di bahunya, hingga ku lihat matahari terbenam berwarna orange.
“sunset” gumamku
“ya.. sunset” jawab Bryan
“bagaimana kau tahu?” tanyaku penasaran
“mudah, kau selalu kembali ke hotel sebelum matahari terbenam” jawab Bryan enteng. Aku hanya memperhatikan sunset yang indah itu.
“Qiwi” Panggil Bryan
“ya” jawabku tak berpaling dari matahari terbenam
“aku menyukaimu” ujarnya pelan, aku terbangun dan menatap wajahnya
“dan tak ada alasan untuk itu. Tolong, jangan pernah kau pertanyakan. Jangan berikan syarat akan perasaanku” Lanjutnya sambil membalas tatapanku
Bryan mendekatkan wajahnya padaku “kau tahu apa yang dikatakan setiap wanita dalam suasana seperti ini?”
Dengan gugup aku menjawab “”romantic?”
Bryan tersenyum membenarkan, ia pun mendekatkan wajahnya.. dekat.. dekat.. dekat hingga aku menutup mataku dan menerima ciumannya. Bryan terasa begitu nyata, dan suara detak jantungnya begitu jelas terdengar. Detak yang cepat sama seperti detak jantungku. Bagaimana bisa dia begitu berdebar-debar sama seperti yang kurasakan, hangat nafasnya yang memburu itu semua nyata menyentuh kulit wajahku. Semua yang kuterima saat ini adalah hal yang tidak pernah ku duga, jauh… lebih jauh dari pemikiranku yang terkadang selalu salah membaca keadaan. Akhirnya aku tahu bagaimana caranya untuk mencintai tanpa merasa tersakiti, yaitu cinta itu harus terbalas. Cinta harus ada di masing-masing hati dan kurasa aku telah menemukan satu tangan untuk bertepuk bersama denganku. Malibu…., I’m in love
The end
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar