keep your dream, hold it tight

terjatuh itu wajar, namun jangan terlalu lama tersungkur. berjalanlah walau harus tertatih :)

Selasa, 10 Juli 2012

Ceritaku: Dinasti atau Demokrasi?

Ceritaku: Dinasti atau Demokrasi?

Dinasti atau Demokrasi?

Dinasti dan Demokrasi, dua kata yang sama tak lepas dari pemerintah, perintah dan orang yang diperintah. Dinasti berlaku pada masa lalu, dan dipakai dewasa ini di beberapa Negara di dunia. Sebenarnya apa yang akan saya bahas dalam artikel ini? Karena sekarang sedang marak dengan pilkada, dan bahkan sebentar lagi akan memasuki pemilu pemilihan presiden, maka artikel ini saya tulis untuk memperhatikan pengalihan kekuasaan menurut Dinasti dan Demokrasi. Kampanye, spanduk, baliho, visi, misi, janji manis, suap menyuap, hal itu mewarnai acara agung : PEMILU. Inilah budaya demokrasi, dimana pemimpin dipilih langsung oleh rakyatnya. Demokrasi, pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Masalahnya adalah, apakah rakyat memang mengenal siapa calon pemimpin yang mereka pilih? Sungguh disayangkan, 90% warga Indonesia tak peduli akan politik dan hukum. Bahkan, sebagian mereka berkata “ untuk apa memilih mereka (pemimpin)? Apa kami akan diberikan nasi saat lapar, jika kami memilih mereka?” ya.., itulah pemikiran mereka yang akhirnya golput. Kebanyakian dari mereka tak mengerti betapa berpengaruhnya pilihan mereka. Sebenarnya, para pemimpin itu tak akan datang dan menberikan nasi saat kau menjerit kelaparan, mereka tak akan menaiki helicopter dan membuat hujan uang, namun, mereka bisa membantu rakyat dengan kebijakan yang mereka ambil, kebijakan yang benar-benar bijak. Kembali ke permasalahan awal. Di era demokrasi, pada masa kampanye begitu banyak uang yang para kandidat buang hanya untuk membuat iklan, baliho, pawai dan hal-hal yang bisa membuat mereka terlihat di sepanjang jalan kota, dan terlihat eksis di masyarakat. Hampir semua kandidat pasti mempunyai visi memberantas kemiskinan. Jika kita pikirkan lagi, hal ini lucu begitu memalukan mendengar omong besar mereka. Seperti menyaksikan seorang pengangguran yang sedang meminta pekerjaan dari rakyat. Bohong jika mereka melakukan ini untuk Negara dan atas nama rakyat, karena sebagai manusia mereka memerlukan matetri untuk bertahan hidup, dan posisi di pemerintahan adalah posisi yang sangat menjajikan. Jika kita fikirkan lagi, bukankah ajang kampanye adalah ajang penghamburan uang? Jika memang bapak/ibu yang menjadi kandidat murni ingin memajukan bangsanya di bawah naungannya, mengapa ia begitu ambisius, membuat baliho dimana2, memasang iklan di TV, untuk apa sebenarnya itu? Untuk rakyat? Jika memang begitu, mengapa mereka tidak memberikan uang itu untuk makan rakyat jelata? Sungguh disayangkan, ini sangat memalukan. Hal yang mengecewakan, hal yang berulang kali terjadi : diangkat, dipilih, menjabat, dan berakhir buruk di mata rakyat. Pemilu memang bagus, semua orang bisa berkesempatan untuk menjadi pemimpin, dan takyat yang memilih, namun kembali lagi, apakah rakyat Indonesia mengenal mereka dan apa mereka juga mengenal rakyat Indonesia? Dewasa ini, pemilu hanya sebuah acara formalitas, karena sebenarnya rakyat sudah tidak peduli dengan politik yang abu, siapa pemimpin selanjutnya, mereka tak perduli, toh harga sembako tak pernah menjadi murah, toh biaya pendidikan tetap mahal, toh pekerjaan tetap sulit dicari. Toh korupsi tumbuh subur. Demokrasi apa ini? Semua ada di tangan rakyat? BOHONG, semuanya ada di bawah kendali si kuat, yang pasti bukan rakyat. Dinasti, di era dinasti pemeritah diberikan secara turun temurun. Tak ada kampanye tentunya, yang meghamburkan uang. Namjun, disini rakyat tak muingkin berksempatan untuk menjadi pemimpin. Kalau kita telaah, semuanya sama saja, baik dinasti maupun demokrasi. Di pilih rakyat atau tidak dengan cara dipilih oleh rakyat semuanya sama saja. Rakyat jelata tetap rakyat jelata titik. Jadi, apakah sebuah system yang masih dipersalahkan?

Sabtu, 26 Mei 2012

Hari ini : 26 Mei 2012

Hidup itu hanya ada 2 pilihan : laki-laki perempuan, siang malam, susah senang. Hari ini aku menyaksikan begitu banyak tawa menghiasi teman-temanku di negeri ini “AKU LULUS” Mereka berteriak dan gembira, tak terkecuali aku terima kasih Tuhan untuk nikma-tMu yang indah ini. Aku bukan nona SMA lagi, aku seorang gadis dewasa sekarang, entah bagaimana aku memperlakukan hidupku hingga tak terasa aku telah melangkah pasa fase yang lebih tinggi dalam hidupku yang masih pagi ini. Aku lupa, diantara tawa, pasti akan ada tangis, benarkan? Bagaimana dengan mereka, saudaraku yang sama-sama berjuang denganku yang tak bias berkata “AKU LULUS” . Apakah air mata masih bias meringankan sakit yang bersemayam di hati mereka? Teman..., engkau yang disana yang sedang menjadi lelah dengan hidup, dan menjadi benci dengan sebuah nilai yang tertera dalam secarik kertas yang bias membuatmu begitu hancur, dengarlah ini... aku yang bodoh dan tak berguna “kurasa kau tahu bahwa ada rencana besar yang bersembunyi di balik semua ini, yakinlah ” Aku lulus, aku lulus. Selanjutnya adalah rencana akan senuah Universitas. Aku mendapat rekomendasi untuk mengikuti SNMPTN undangan. Itu hanya akan terjadi satu kali di dalam hidupku, aku akan merasa terhormat. Meskipun aku tidak diterima di undangan, tapi aku bahagia karena setidaknya aku menapatkan kehormaytan itu yang tak akan ku lupakan dalam hidupku. Kini aku rasa aku telahsiap melangkah, lebih mengenal akan sebuah kehidupan dan mencari kedewasaan. Aku akan memulai dan tak akan melupakan kenangan-kenangan yang telah tersimpan dalam ingatanku akan hari kemaroin saat aku menjadi nona manis, saat menjadi seorang remaja.

Sabtu, 31 Maret 2012

I am A Teenager: Mr.England

I am A Teenager: Mr.England

Mr.England

“Happy birth day to you…

happy birth day to you…,

happy birth day,

happy birth day Qwinnic ”

Inilah lagu yang cocok banget dinyanyiin dimalam penuh bintang ini, meskipun kebanyakan nyanyinya ada yang fals, sumbang dan sebagainya (kaya gak ikhlas). Saran gw buat yang ulang tahun mendingan nyewa paduan suara atau artis organ sekalian, buat nyanyi Happy Birth Day biar enak didengernya. Tepat hari ini gw ulang tahun yang ke-17. Kata orang-orang sih angka 17 dalam hidup itu angka yang sacral, angka dimana udah dianggap dewasa, angka dimana kita udah dianggap pinter(pinter boong, pinter belajar, pinter jajan, pinter pacaran). terus saat kita berusia 17 tahun, kita bisa bikin KTP, SIM (bisa juga Surat Izin Menikah) and tentunya udah pantes pacaran (he.. he..).

Kenalin nama gw Qwinnic. Kepanjangannya Qwinnic Coqueta, orang-orang biasa manggil gw Qiwi.Gw blasteran Jawa-Sunda (Heran ya… Blasteran Jawa-Sunda tapi namanya kaya bule Belanda), berambut ikal hitam dengan kulit hitam, mata bulat yang hitam ,idung mancung, bibir tebal hitam dengan tinggi badan rata-rata(ha..ha.. itu sih blasteran Jawa-Papua), anak kelas 3 SMA Di Bandung dan siap melepas gelar SMA dengan bangga di tahun ini.Eits… ngomong-ngomong 17, gw penasaran sama yang namanya sweet seventeen itu kaya gimana rasanya? Sweet dalam pacaran maksudnya? I don’t know. Sebelum gw niup lilin yang tertancap di atas cake pink bertingkat 3 yang so sweetnya gak nahan, gw mejemin mata dulu sambil make a wish diawali dengan tarikan nafas panjang dan mulai berdoa : semoga di usia gw yang udah 17 tahun ini gw bisa ngerasain sweet seventeen yang sering dibicarain sama orang-orang. Semoga gw bisa ketemu sama pangeran impian gw, semoga gw bisa mengakhiri gelar jomblo yang melekat didiri gw selama bertahun-tahun ini. Amin!. Aneh ya wishnya kaya gitu, he..he.. tapi kan yang namanya doa harus sesuai kebutuhan.

Satu persatu temen gw cipika-cipiki sambil ngasih kotak yang dihias so imut (padahal entar juga gw sobek-sobek dengan buas) dan tentunya bilang “Happy birth day Qiwi!” tak terkecuali Siska dan Rara. Mereka adalah teman seperjuangan gw disekolah, mereka tuh sahabat gw yang the best dan satu lagi wish gw, gw gak mau kehilangan sahabat kaya mereka. Love unyu-unyu deh…!. Gak ada prince berkuda putih datang secara tiba-tiba di pesta ulang tahun gw dan ngasih sebuah cincin berlian yang bertahtakan hati (alah alay dot kom) kaya di kebanyakan sinetron atau FTV, tapi gw sering juga sih berharap kay gitu, sayangnya gak pernah kejadian. Ngomongin Wish gw yang terakhir (mengakhiri masa jomblo), Gw termasuk malang dan tak beruntung. 3 tahun di SMA gw belum dapet mantan satupun gak kaya kedua temen gw Siska sama Rara .

Kebanyakan temen gw, ngasih gw kamus bahasa Inggris-Indonesia sama Alfalink , gara-gara gw tulalit dalam berbahasa Inggris (Kenapa gak sekalian ngasih gw bulenya aja biar bisa sekalian gw pacarin tuh bule). Gw kan cinta Indonesia, so.. gak perlu malu kalo gak bisa bahasa Inggris. Kata temen-temen gw sih, gw keberatan sama nama gw yang kebarat-baratan (Salah itu ,yang ada itu nama yang keberatan sama gw. Ha.. ha..).

Hari minggu pagi, nyokap gw gak biasa-biasanya sibuk ngerumpi di telpon. Tapi gak papalah dari pada sibuk ngomel gw yang males mandi. Nah… di ruang TV ada papah lagi asyik baca Koran. Samar-samar gw ngeliat salah satu artikel tentang gayus tambunan yang di penjara tapi bisa ke Bali (Mantap… yah ! tahanan masa kini, punya ilmu rawa rontek kali yang bisa ngilang atau punya ilmu suap yang tinggi. Haaaahaa, hanya dia, kepolisian dan tuhan yang tahu).

Pas gw sarapan sama Mamah, papah, dan adek gw. adek gw menorah kearah gw dan tersenyum sendiri. Gw salah tingkah dong, emang ada yang lucu didiri gw?. Gw langsung usap-usap muka gw aja, kali aja ada sesuatu yang nempel (tapi gak ada). “Heh kunyuk.. kenapa lu ngetawain gw?” tanya gw ke Adek gw si Pinno. “Tanya aja sama mamah!” jawab si Pinno. Mata indah gw langsung mengarah ke mamah yang sedang lahap memakan nasi goreng buatan Bi Minah. “ini soal kesepakatan papah sama mamah buat… buat…” ucap mamah dengan ragu-ragu. “Buat apa mah?” tanya gw dengan penuh rasa ingin tahu yang kuat dan semangat yang menggebu-gebu. “buat jodohin kamu sama si Bryan anaknya Tante Dian yang ada di Inggris itu” lanjut mamah. “What?” jawab gw kaget dengan mata yang hampir keluar dan bibir nganga (sebenernya pura-pura, supaya keren aja biar kaya di film-film). Suasana hening sejenak kecuali Pinno yang masih cengengesan. “Bule ganteng itu, yang ada di album foto tahun baruan kemaren?” tanya gw dengan penuh semangat dan senyum kepuasan (kapan lagi dapet bule ganteng). “Kamu setuju?” tanya papah. “Dengan senang hati, kalo dipaksa he… he..” jawab gw sambil menebar senyum kemenangan.

Gw gak nyangka, lamaaaaaa gw ngejomblo eh pas dapet langsung bule. Mana Bulenya kagak nahan lagi. Nama lengkapnya Bryan Wicaksono, perawakan tinggi, rambut item agak-agak coklat, idung mancung, kulit bule bener. Pokoke mak nyos. Tapi ada beberapa kendala yang bikin gak enak. Pertama, gw belum pernah ketemu sama dia secara langsung. Kedua, gw gak bisa bahasa Inggris, gimana bisa nyambung kalo gak bisa ngobrolnya. Tapi kendala yang paling berat adalah : dianya mau gak sama gw?. Gw mesti puter otak, kesempatan itu gak boleh gw sia-siain. Meskipun Bryan punya darah Indonesia, tapi dia itu lahir dan di besarkan di Inggris, jadi dia gak bisa bahasa Indonesia. Menurut gw, kamus sama Alfalink itu gak cukup buat bikin gw pinter bahasa Inggris dalam waktu 2 bulan (Secara 2 bulan lagi, Bryan sama keluarganya mau ke Indonesia). Kata Siska sih, mendingan gw les kilat aja. Les bahasa Inggris gitu biar keren. Kebetulan kakak pacarnya punya temen guru les bahasa Inggris (ide bagus dalam kondisi genting ini meskipun gw males).

Akhirnya di suatu siang, gw dianter Siska sama Rara buat ketemu guru les gw. “alah gaya lu, pake jodoh-jodohan sama bule segala” ejek Siska. “Gw juga baru tau kemaren. Itu namanya pucuk dicinta ulam pun tiba! Ah.. sirik aja lu” Jawab gw dengan penuh kebahagiaan. Siang itu Kita janjian di CafĂ© gak jauh dari sekolah gw. “Eh.. eh.. itu orangnya dateng!” Ucap Siska sambil jari telunjuknya yang lentik berkutek pink menunjuk kepada seorang cowok dengan kemeja putih garis-garis dengan jeans panjang , kira-kira umurnya 20an. Mukanya juga cute, badannya lumayan tinggi, ya.. bisa dibilang baguslah (tapi kayaknya bagusan tunangan gw si Bryan). “Hi.. Mr.Ifan” sapa Siska pada cowok yang sedang menghampiri gw, Rara dan Siska. “Hi,, Sis, gak perlu pake Mr kali, panggil Ifan aja!” Ucap cowok yang pinter bahasa Inggris itu. Gw langsung nyuruh Mr.Ifan duduk dan memulai ke pokok pembicaraan. “Jadi gini Mr.Ifan, Saya Qiwi. Saya mau belajar bahasa Inggris sama mister. ” Ucap gw untuk memulai pembicaraan (Jangan tanya kenapa Rara gak ikut ngomong, dia lagoi asyik BBMan sama cowoknya). “dengan senang hati” Jawab Mr.Ifan dengan senyuman. Ya, kesan pertama ketemu sih kayanya dia orangnya baik dan sopan, itu terlihat dari cara dia bicara.

Hari pertama, gw belajar dirumah gw. Mr.Ifan langsung ngasih materi yang terdasar buat pemula kaya gw (sebenernya bukan pemula sih, dari SD gw udah belajar bahasa Inggris tapi gw gak terlalu ngerespon). Dia ngajarin gw gimana caranya ngenalin diri pake bahasa Inggris, cara minta izin atau minta maaf, cara bertanya dan lain sebagainya. Kesan gw buat Mr.Ifan itu, adalah dia itu tipe cowok yang sangat sopan dan menghargai orang. Pada dasarnya gw emang pinter jadi dalam jangka waktu yang tidak lama, ya.. kira-kira 2 minggu gw udah bisa cara memperkenalkan diri dan bertanya. Waktu yang sangat singkat dibanding sekolah bertahun-tahun.

Sebulan lebih udah gw belajar Inggris sama Mr.Ifan. Dia udah kayak kakak buat gw. Kata Mr.Ifan belajar bahasa Inggris itu gak cukup dengan teori doang. “Supaya kamu lebih bisa, Kamu sering nonton film Hollywood aja yang gak pake translate atau dengerin music barat!” Kata Mr.Ifan. “oh.. siip, buat tunangan aku tercinta apapun akan dilakukan, he..he..” Jawab gw dengan sedikit becanda. Mr.Ifan hanya tersenyum dan ngacak-ngacak rambut gw. Coba aja kalo gw belum di jodohin sama Bryan, pasti gw mau jadi pacar dia.

Gw ngerasa deg-degan, rasanya jantung gw mau copot. Besok adalah tepat 2 bulan yang gw tunggu-tunggu. Tapi gw ngerasa sedih karena gw udah bisa bahasa Inggris (meskipun sedikit) dan itu artinya gw gak bisa becanda sama Mr.Ifan lagi. Ahh.. gw harus buang pikiran itu jauh-jauh. Esoknya, gw sama keluarga gw ke Bandara buat jemput Bryan dan keluarganya. Kata mamah sih, Bryan lansung suka sama gw pas liat poto gw waktu ulang tahun yang mamah kirimin lewat E-Mail (wah.. cinta gw terbalaskan). Tiba di Bandara gw jadi gak pede, gw takut grogi ngomong Inggris meskipun gw udah bisa. Gw mikir kata-kata apa ya yang cocok buat mengawali pembicaraan nanti. Aduh pokoknya enggak banget deh.

Akhirnya Bryan datang juga. Waw, emang gak salah. Aslinya Bryan lebih Cool dari poto yang mamah kasih ke gw. Gw sangat menikmati pemandangan yang sedangn gw saksikan itu, Hingga akhirnya adek gw ganggu pandangan gw. “Biasa aja Kak, gak usah mimisan. hahahah” Ucap adek gw sambil tertawa puas. Gw Cuma bales pake tatapan tajam hingga bikin adek gw itu diem lagi. “Eh mbak Dian, selamat datang Mbak. Apa kabar? Udah lama gak ketemu ya..” Sambut mamah yang langsung memeluk calon mertua gw. Sementara itu, mata gw ngelirik Bryan yang kelihatan gagah dengan sweater hitamnya. Ternyata Bryan pun melihat kearah gw dan ngasih senyuman yang langsung gw bales pake senyum maut. “Baik jeng, gak kerasa ya, anak kita udah pada besar” Jawab Tante Dian ke mamah gw. “Ya sudah mari, kita ke mobil, come on sir!” Ucap papah gw ke bokapnya Bryan yang terlihat masih muda. “Qiwi, mobil mamah gak muat, jadi kamu sama Bryan yah!” Ucap mamah ke gw. “ah..? iya mah.” Jawab gw sambil pura-pura malu gitu padahal aslinya gak tahu malu.

Di mobil, gw punya kesempetan buat lebih mengenal Bryan dan sekalian cuci mata (aduh senagnya hatiku di kasih vitamin C=Cinta). “I like the view. This is Bandung?” Tanya si bule itu sambil menoreh ke arah gw. “Ya.., ” jawaban gw yang singkat, padat dan jelas (masalahnya gw takut salah ngomong). Bryan ngomong lagi : “we never know any other before, but I believe that we can make a good relation like now”. Gw gak konsen banget, akhirnya gw cuma ngasih senyum sama dia sok ngarti padahal gw Cuma faham sebagian. 10 menit sudah selama perjalanan gw nyoba memberanikan diri buat ngomong ke dia “I hope, you’ll enjoy with me!” Ucap gw ke Bryan (itu kata Yang gw inget yang pernah di ucapin Mr.Ifan waktu gw masih gak bisa bahasa Inggris). Pandangan gw terarah antara melihat Bryan dan melihat jalan(coz gw lagi nyetir). Sementara itu Bryan menorah ka arah gw, gw rasa dengan wajah serius. “Honest, I can’t forgetting you since I saw your photos. I know, may be you’ll think that it’s so crazy”.(gila tuh bule, terang-terangan banget) Aduh gw udah GR banget, rasanya gw lagi terbang melayang bersama burung-burung yang bernyanyi indah saat gw denger dia ngomong gitu. “Same here, I felt it too” jawab gw sambil nahan pengen jingkrak-jinkrak.

Singkat kata, gw pun lulus dan pertunangan pun tiba. Acaranya di adain di Bali sekalian gw sama keluarga Bryan liburan disana dan enggak lupa juga pedekate. Pestanya dibuat meriah dengan suasana yang anak muda abis. Disana ada temen-temen gw dan kebanyakan temen-temen orang tua gw sama orang tua Bryan. Disana juga datang Mr.Ifan (saat itu gw ngerasa kangen sama dia). “Hi, Qiwi! What a suit couple” Ucap Mr.Ifan yang kayanya basa-basi . “Thanks Buddy” Jawab Bryan sambil menepuk punggung Mr.Ifan. entah kenapa gw gak bisa berkata-kata, I just could say thanks. Acara pun di mulai. Kami, gw sama Bryan saling bertukar cincin dan telah resmi bertunangan di pulau para dewa yang indah, Bali. Semua yang gw alami seakan sebuah mimpi yang berubah menjadi nyata dan terasa begitu nyata. Hal yang berawal hanya ada dalam mimpi indah gw kini bisa gw rasakan dengan sangat jelas.(lebay)

Emang sih gw baru 17 tahun, tapi gak ada salahnya kan buat tunangan? Dari pada gw pacaran sama orang gak jelas, nanti hidup gw yang udah gak jelas malah makin gak jelas. Sebenernya gw masih bingung, kok mau ya si Bryan tunangan sama gw. Secara di negaranya kan cewek yang 1000x cute dari gw itu seabrek. Whatever, in the fact banyak orang bule yang terpesona sama orang Indonsia, buktinya Tante Dian. Dia bisa nikah sama Om Rodelf gara-gara tabrakan di tempat pariwisata di Jogja. Emak gw aja yang dapet bokap gw dari Jawa, padahal temen FaceBooknya kebanyakan bule.

Hari ketiga di Bali, gw ngerasa ada yang aneh sama Bryan. Meskipun gw ada disisinya dia gak segan-segan buat ngegoda tourist yang sedang berjemur di pantai. “Hi… sweety!” begitulah Bryan menyapa cewek-cewek bule itu (Mungkin orang bule kalo nyapa cewek gitu kali). Tapi gw masih maklumin itu, mungkin di Inggris dia begitu. Tapi apa itu wajar, dia seolah gak ngehargain gw. Saat itu gw gak tahan ngeliatnya dan gw langsung pergi ninggalin dia tanpa dia tahu. Mungkin saat itu gw cemburu atau kesal atau apalah itu yang pasti gw bĂȘte banget. “I don’t like the way you did to those girls !” Kata gw. “hey, somebody jealous here” Jawab Bryan sedikit menyindir, “come on baby, I’m not serious. I thought you know that I love you so much” lanjutnya.” I never know, you never show it to me” Jawab gw dengan suara agak meninggi. Tiba-tiba Bryan terdiam dan menatap mata gw dengan mata birunya yang bersinar menyinari hati gw yang lagi empet. Dan gw bales buat natap matanya balik. Gw lihat mata itu semakin mendekat, terus mendekat, mendekat dan…… “QIWI…..!!!!” tiba-tiba terdengar suara cempreng dari kejauhan manggil nama gw. Seketika semuanya menjadi buyar. “Qiw… kenapa lu, lagi ulang tahun kok ngelamun?” tanya Siska sampil nepak punggung gw. “Ah Siska… lu ngehancurin semuanya!!!” gerutu gw. “Apa sih lu…” jawab Siska. Dasar teman yang tidak pengertian, padahal sebentar lagi Si Bryan nyium gw. “Uda lah.., biasa temen kita yang satu ini suka ngayal gak jelas… ha..ha..” ejek Rara sambil mainin rambut ikalnya yang diwarna.

“Lu dicari nyokap lu, ada tamu tuh”

“Tamu? Bukannya semua tamu udah pada dateng”

“Mana gw ta

Mengetahui itu, gw langsung beranjak dari kursi yang sudah menjadi saksi akan hayalan gw yang gagal. Dengan langkah yang lemas dan agak ngesot gw langsung nyamperin nyokap gw. “ada apa mah?” tanya gw. “Tunggu sebentar ya!” jawab mamah dengan senyum penuh arti. Mamah pun pergi ke ruangan depan. Setelah menunggu sebentar, mamah kembali dengan seseorang yang gw kenal, seseorang yang gw…. YA AMPUNNNN…. Bryan dateng ke pesta gw.





Nina Minawati M

SMAN 2 Purwakarta

Rabu, 04 Januari 2012

I am A Teenager: Tanah Yang Dijanjikan

I am A Teenager: Tanah Yang Dijanjikan

Tanah Yang Dijanjikan

Tanah Yang Dijanjikan

Nina minawati Muhaemin



          Terkadang aku berharap tak dapat melihat mentari terbit. Kadang aku bosan mendengar degup jantungku. Kadang aku berharap aku lupa untuk bernafas------ Kini jalanku telah tertatih, tak mampu lagi berlari mengejar angin, menangkap kebahagiaan. Hidup dalam baying-bayang kelatian yang belum jua menjemputku.

            Selalu terlintas dalam benakku, untuk apa aku hidup? Untuk merasakan kepedihankah? Atau untuk menghitung mayat-mayat yang semakin hari semakin bertambahkah? Atau untuk mendengar jeritan-jeritan penderitaankah? Kurasa ini bukan pertanyaan, namun sebuah kenyatahan yang harus ku TELAN.

            Tak terasa telah 1 bulan aku berada di Libanon. Tak terasa…, ya memang tak terasa, karena mungkin sekarang aku terlah mati rasa. Libanon, bermil-mil jauh dari padang gersangku : GAZA. Mungkin kau bertanya, bagaimana aku bias berada disini---- Ini adalah cerita yang panjang.

            Semua berawal ketika aku dibawa oleh seorang relawan China pasca agresi yang dilakunkan para Zionis atas wilayahku : Gaza. Ia seorang pria tinggi, putih, dan mempunyai mata yang nyaris tertutup. Ia dating ketika aku duduk bersimpuh di depan mayat adikku, Ridwan. Dengan segera lelaki China itu membawaku yang tak henti-hentinya menangis.Aku dibawanya ke tempat yang penuh akan tenda-tenda besar. Disana ada sekumpulan wartawan dari berbagai Negara. Kadang aku berfikir, untuk apa mereka kesini? Untuk sebuah berita besarkah? Atau untuk menghampiri kematian mereka sendiri? Aku tak mengerti.

            Aku melihat ada banyak orang sebangsaku : tua, muda, anak-anak, dewasa, mereka berkumpul disana dengan situasi dan kondisi yang berbeda-beda, yang sangat ku tahu tak ada satupun dari merekan berada dalam keadaan yang baik.

            Pemuda China itu terus membawaku melewati beberapa tenda yang penuh oleh orang-orang Palestina. Diantara mereka, ada yang memperhatikanku dan ada juga yang gundah gulana sendiri. Kami berhenti tepat di depan sebuah tenda besat berwarna kuning keemasan. Dari dalam keluar seorang gadis cantik berambut lurus panjang, warnanya hitam nan berkilau : begitu indah. Dalam sedetik aku dapat mengetahuii bahwa wanita cantik itupun adalah orang China : mereka mempunyai mata yang hamper tertutup. Kadang aku bertanya, apakah mereka dapat melihat dengan jelas? Hanya mereka yang tahu. Si lelaki yang baru ku tahu namanya adalah Yuo Eun berbicara dengan wanita itu yang dipanggil Shin oleh You, mereka berbincang dengan bahasa tang kosakatanya tak ku mengerti sedikitpun. Dalam percakapan Shin, memandangku, matanya terus bergantian antara memandangku dan Yuo. Aku bias membaca tulisan besar yang tersirat di dalam mata Shin yang sedang melihatku : IBA, itu membuatku cukup mengerti bahwa mereka sedang membicarakanku. Bukan….., bukan membicarakanku, melainkan membicarakan kemalanganku.

“I’m so sorry for you!!” Ucap Shin, menatapku iba.

sedikit mengejutkanku karena tanpa sadar aku menyimak pembicaraan kedua orang China itu (meskipun ku tak mengerti). Aku bias merasakan ada tulisan besar yang terpampang di keningku : AKU SEDANG FRUSTASI. Terlalu lemah bagiku untuk membalas ucapan Shin.

“I promise you’ll gonna save here..” Lanjut Shin sambil membawaku ke dalam terda. Itulah pertamakali aku menginjakkan kakiku di tempat pengungsian.



***



Ini dalah sebuah kisah kelam diantara kekelaman dalam hidupku. Bagaimana aku bias berada jauh dari Negeriku : bagaimana aku bias berada di Libanon, di sini di tempat aku berdiri. Gaza…., bukan…, bukan Gaza, tepatnya Palestine apa kabarmu?

            Saat itu pengungsian adalah tempat yang aman bagiku untuk berlindung. Menghabiskan siang hari membantu para ibu memasak, merawat orang yang terluka, dan mendengaarkan cerita kelam mereka. Ketika malam aku lebih suka berada di tengah-tegah anak kecil, ya.., sedikit mengobati kerinduanku pada adikku, Ridwan. Aku menceritakan kepada mereka tentang sebuah negeri yang aman, damai , dan terntam, yang entah apakah memang benar-benar ada? Aku sangat berbakat dalam hal bercerita tentang keindaha, kedamaian, kebahagiaan, dan cinta, karena hal itulah yang sering kupikirkan bagaimana rupanya.

            Anak-anak itu…, yang tak berdosa, yang tak mengerti dengan apa yang sedang terjadi. Senyum mereka bagai mentari yang terbit di pagi hari : begitu indah. Entah apa yang berada di kepala malaikat-malaikat kecil itu, yang ku tahu ada kerinduan di mata mereka, kerinduan yang mendalam akan sebuah : KEDAMAIAN. Sesekali ceritaku terhenti kala terdengar bunyi dentuman yang mengejutkan. Aku heran, bahkan mereka tak ketakutan sedikitpun, Allah pasti telah menguatkan hati mereka sedemikian rupa. Mereka selalu bias tersenyum bagaimanapun caranya. Sedikitpun tak ku dengar keluh kesah dari bibir mungil mereka, berbeda denganku yang terkadang lupa untuk bersyukur, astagfirullah…., ampuni hamba-Mu ini Ya… Allah.

           

***

           

Pagi-pagi sekali aku melihat anak-anak berkumpul di tempat dimana aku biasa bercerita. Mereka membentuk sebuah lingkarang dengan seorang pemuda di tengah-tengah mereka. Ternyata itu Traver, relawan asal Amerika. Ia begitu terlihat serius dalam ceritanya, hebatnya ia begitu fasih bahasa kami. Aku mendekat dan ikut menyimak, 5 meter jauhnya dari mereka.

“aku yakin kalian tidak tahu perbedaan antara Yahudi, Zionis dan Israel…” Ujar Taver yakin.

“Mereka sama…., sama-sama penjajah!!!” teriak seorang pemuda dari belakang, ya…, terdengar kesal dan marah.

Traver tidak menghirauka pemuda itu dan ia melanjutkan perkataannya. “Yahudi adalah   nama atau sebutan untuk bangsa yang merupakan keturunan Israel, nama lain nabi Yakub.AS. Nama Yahudi sendiri berasal dari salah seorang putra nabi Yakub yang bernama Yahuda. Sedangkan Zionis itu adalah ideology dan gerakkan yang pertama kali dicetuskan oleh Theodor Herzl. Kata Zionis diambil dari kata ‘Zion’ yang merupaka salah satu bukit di ‘tanah yang dijanjikan’. Gerakan ini menghimpun semua bangsa Yahudi untuk kembali berkumpul, bahkan…., bahkan…,” Traver terhenti dalam ceritanya, ia tertunduk dan menutup matanya.

“Ayo….!!! Lanjutkan!!” Sahut seorang bocah kecil yang duduk di samping kirinya.

            Traver kembali mengangkat kepalanya, dan sekarang matanya tertuju pada bocah kecil yang ada di sampingnya. Dengan segera ia menmangku bocah kecil itu dan mendudukkannya di pangkuan.

“Hey…., Aisyah, what is he doing over there?” Yuo Eun tiba0tiba berada di sampingku yang cukup mengagetkanku.

“Hey…, Yuo. Traver, he’s telling a story to these Child…” jawabku berusaha menyimpan rasa kagetku.

“Bahkan……, bahkan…., dengan menginjak-injak dimensi kemanusiaan Negara lain.” Akhirnya Traver melanjutkan kata-katanya, dengan senyum yang lebih mirip dengan ekspresi menakut-nakuti, terlalu dipaksakan menurutku.

“Sementara Israel merupakan Negara yang bukan Negara, karena mencaplok wilayah Palestina dengan berlindung di balik tameng sejarah dan religi.” Traver mengakhiri ucapannya.

            Zion? Tanah yang dijanjikan?. Semuanya mengiang-ngiang di kepalaku. Aku berusaha diam menutupi rasa penasaranku. Sebenarnya aku tidak nyaman dengan Yuo berada di sampingku, apa yang ia lakukan, mendengarkan ratusan kosa kata yang ia tak mengerti sedikitpun : bagus sekali.



***



            Malam semakin dingin, sementara desiran angina terus menghujam, membangunkanku dari lamunan panjang, ingatkanku pada dosa yang telah kulakukan. Ya…, Rob ikhlaskan hati dan jiwaku menerima cobaan-Mu agar aku yahin akan cinta-Mu  yang abadi di dunis ysng fana ini.

“Ternyata kau memiliki stok air mata yang banyak, Aisyah!” Sahut sebuah suara yang tiba-tiba muncul dari arah samping kiriku, yang cukup mengejutkanku. Ternyata Traver, ternyata ia sangat tinggi, mungkin 183 cm. wajahnya putih, sehingga aku bias melihatnya meskipun dibawah cahaya bulan yang remang-remang. Dalam sedetik ku melihat mata birunya menyala di tengah kegelapan : begitu indah. Aku menengok ke arahnya sebentar dan kembali menaruh pandanganku kedepan. Entah apa yang kulihat diantara warna hitan malam, mungkin lampu-lampu rumah yang berwarna-warni.

“Apa yang sedang kau lakukan disini, menyendiri? Ini malam yang dingin, you know??” lanjutnya.

“Aku sedang menikmati malam yang tenang.” Jawabku, sedikit dibuat-buat. Refleks dating dari kakiku, dengan spontan aku melangkahkan kakiku kearah kanan, menurutku 1 meter adalah jarak yang cukup aman antara aku dan Traver.

            Dilihat dari jarak 1 meter, Traver terlihat seperti orang arab, hidungnya, alisnya bibirnya,. Yang membuatnya tampak seperti orang amerika adalah warna mata, rambut dan kulitnya saja. Mungkin ia blasteran, mungkin.

“Dan kau…, apa yang kau lakukan disini?” Tanyaku yang lebih mirip seperti sebuah introgasi.

“Sama sepertimu. Menikmati malam yang tenang.” Jawab pria kekar itu, mencontek kata-kataku.

            Penampilannya begitu tenang dan cool. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket kulitnya yang terlihat sangat mahal. Tunggu…., aku menangkap sebuah kerutan di dahinya yang tidak bias menyembunyikan bahwa ia sedang dalam keadaan gelisah. Tapi aku coba tidak memikirkannya, bagiku itu adalah urusannya.

“Hmm…, lagi-lagi gencatan senjata” Ucap Traver memecah keheningan antara kami.

“Hmmm…, ya, setelah saling serang, apa mereka piker ini sebuah permainan?” Jawabku agak geram.

“ya, benar. Aku tak mengerti. Pertama, Hamas mengitimkan roket menuju Israel” tambahnya.

“lalu Zionis itu membalas dengan melancarkan serangan udara yang disebut Operation Cast Lead” Tambahku lagi.

“dan setelah hal besar itu mereka menyatakan gencatan senjata” ucap Traver, sementara matanya menerawang entah kemana. “Aku tidak pernah bias mengerti akan taktik mereka, aku tidak pernah bias membaca pkiran mereka, apa yang sedang zionis-zionis itu persiapkan dalam gencatan ini. Arrrgghhh….!!!” Traver terlihat frustasi, ia berjongkok dengan posisi tangan yang mengacak-acak rambutnya sendiri, ya suatu ekspresi yang bagiku tak perlu ia lakukan.

            Aku teringat kembali akan kata-kata yang ia ucaokan pagi tadi, tentang tanah yang dijanjikan, dan akupun penasaran bagaimana bisa ia begitu fasih berbahasa kami.

“Traver…., emmm, aku ingin menanyakan sesuatu padamu” tanyaku padanya sambil ikut berjongkok sepertinya.

“Apa? Katakana saja!” jawabnya sambil membereskan kembali rambutnya.

“Apa yang kau maksud dengan ‘tahan yang dijanjikan’?” tanyaku padanya, memcoba memastikan aku tidak terlihat bodoh.

“hahahahahaa…, kau membuatku geli. Bagaimana kau tidak bias tahu itu? Kau penduduk asli Palestina kan?” dia menertawaiku seolah-olah ini semua memang lucu.

“Aku benar-benar tidak tahu!!” aku merasa nada bicaraku meninggi, atau bias dikatakan menutupi wajahku yang terlihat sangat bodoh.

“Kau benar-benar tak tahu dan ingin tahu?” jawabnya sambil menatap mataku lekat-lekat.

“Ya…, dank au tahu menatap seorang wanita yang bukan muhrim seperti itu tidaklah sopan!!!” jawabku sambil berdiri kembali.

“Upss, sorry. Baiklah akan kuceritakan.” Ujarnya dan terduduk diatas pasir. Suasana hening sejenak, Traver tak juga membuka mulutnya, ia malah tersenyum yang menunjukkan lesung pipit di pipinya. Ia melihat kearahku yang mulai kesal.

“Baiklah…., ‘Zionisme’ berasal dari kata Ibrani “zion” yang artinya karang. Maksudnya merujuk kepada batu bangunan Haykal Sulaiman yang didirikan di atas sebuah bukit karang bernama ‘Zion’, terletak di sebelah barat-daya Al-Quds atau Jerusalem. Bukit Zion ini menempati kedudukan penting dalam agama Yahudi, karena menurut Taurat, “Al-Masih yang dijanjikan akan menuntun kaum Yahudi memasuki ‘Tanah yang Dijanjikan’. Dan Al-Masih akan memerintah dari atas puncak bukit Zion”. Zion dikemudian hari diidentikkan dengan kota suci Jerusalem itu sendiri. Jelas??” Ia menjelaskan panjang lebar, hebat ia berwawasan luas.

            Traver begitu haval dengan nama-nama daeerah di Gaza, ia fasih berbahasa kami, ia tahu seluk beluk tentang kami, bahkan ia lebih banyak tahu tentang zionis, seperti ia begitu mengenal bahkan akrab dengan ideology orang Yahudi itu. Padahal ia adalah orang barat, Amerika. Sedikit tidak aneh karena di Amerika banyak sekali orang Yahudi.

“Lalu.., bagaimana bisa kau begitu fasih menggunakan bahasa kami? ” tanyaku lagi.

“karena aku pintar!!” jawabnya singkat sambil berdiri dan pergi.



***

            Kini aku telah berada di Libanon, aku memanfaatkan masa-masa gencatan senjata untuk cepat-cepat keluar dari tanah kelahiranku, meskipun itu berat. Aku membawa Zara bersamaku, ia adalah anak yatim piatu, di pengungsian ia begitu dekat denganku dan aku menganggapnya adikku sendiri.

            Traver, ternyata ia adalah mantan zionis yang menjadi buronan para zionis. Traver tertangkap ketika ia sedang berada di Jerussalem, saat itu ia telah menjadi mualaf, dan dibunuh di tempat. Raver yang malang, semoga Allah melindungimu. Amin.

            Sang Zionis masih sangat geram, bahkan sangat geram. Ada sesuatu yang Traver ambil dari mereka (Zionis) yang telah Traver berikan kepada Hamas. Apapun hal itu, semoga akan membawakemenangan bagi kami. Dan satu hal lagi, Traver telah mengubah namanya menjadi Ahmad Ali Yusuf, nama yang indah seperi orangnya.

            Ada hal yang tidak bisa ku lupakan dari Traver, ia pernah bercerita padaku disaat aku benar-benar sedih dan putus asa, ia tulis dalam sebuah surat  yang ia tulis untukku. Kau benar Ahmad Ali Yusuf, engkau benar. Semoga Allah mempertemukan kita dalam keadaan bahagia. Amiin



.
Untuk Aisyah,
Di tanah penuh berkah.

Assalamu’laikum ukhti..
        Mungin saat kau membaca surat ini, entah aku telah berada dimana. Namun kesedihan dan keputus asaanmu selalu mengiang-ngiang di kepalaku. Kau pernah berkata, hidup ini tidak adil, kau tidak pernah merasakan kebahagiaan, kebebasan, seperti warga dunia yang lain yang hidup normal. Ingatlah ceritaku ini Ukhti!
        Aku tinggal dan besar di Amerika, tanah yang orang-orang sebut sebagai surge dunia. Ya.., memang disna adalah surge dunia, tidak adak aturan-aturan yang mengikat dan hak asasi manusia sangat di junjung tinggi. Disana bebas.., benar-benar bebas.., disanalah surge, dimana tak ada batasan untuk berpakaian, laki-laki an perempuan tidak ada batasan. Nikmatkan Aisyah? Tapi kau tahu…, itulah racun dunia yang akan membawaku pada api neraka yang menyala. Jadi kesimpulannya, Ukhi. Nikmat yang sangat nikmat adalah nikmat iman islam yang sekarang kau rasakan di tanah yang penuh akan sejarah tentang nabi-nabi Allah.
        Aisyah…, semoga kau mengerti semua ini. Semoga Allah selalu melindungi kita semua, Amin. Aku berharap kita bias bertemu lagi di surge, kelak. Wassalam.

Yang menyayangmu…,
Ahmad Ali Yusuf (Benzamin Traver)