keep your dream, hold it tight
terjatuh itu wajar, namun jangan terlalu lama tersungkur. berjalanlah walau harus tertatih :)
Selasa, 07 Agustus 2012
Mr. England part 2
Mr. England part 2
Malibu I’m In Love
Setelah datang ke ulang tahunku, Bryan langsung ingin pamit pergi untuk kembali ke hotel tempat ia akan menginap. Nampak sekali dari wajahnya kalau dia dalam mood yang sangat tidak senang berada di sini, bersamaku. Aku yang melihatnya pun merasa tidak enak. Aku bertanya dalam diriku apa yang salah dengan pesta ulang tahunku, dan bahkan aku merasa aku terlihat cantik dengan gaun unguku. Berbeda dengan apa yang ku rasakan, ibu malah tidak peka akan situasi, ia menghalangi kepergian Bryan dan membawanya ke tengah-tengah temanku. Aku tak tahu harus berbuat apa melihat ibuku sedang pamer orang ganteng pada teman-teman. Bryan nampak ogah-ogahan mengikuti ibu, tapi kenapa ibuku tak merasakan energy negative yang dipancarkan Bryan ?kenapa ibu? Aku hanya bisa tertunduk sedih dan tentunya malu, kenyataan yang sekarang kulihat sangat berbeda jauh dari khayalanku beberapa waktu lalu sebelum Bryan datang meskipun terlambat.
Pesta selesai keluargakupun berkumpul untuk menyambut Bryan yang masih bertahan berkat pertahanan ibuku yang kokoh bak tembok besar cina.
“Bryan, seharusnya mamah kamu ikut” ucap mamah pada Bryan yang sedang meminum sirup
“mommy.., she’s so buzy with her new boutique and so with daddy. Maaf saya hanya sendiri” Jawab Bryan
“Bryan, tante senang sekali walau kamu yang datang. ternyata kamu bisa bahasa Indonesia. Jadi Qiwi gak bakal kebingungan” Sahut ibuku pada Bryan
“Mama aku tidak seburuk itu” aku membela diri, aku tidak benar-benar bodoh dalam berbahasa Inggris.
“my mother teaches me everyday” jawab Bryan
“Qiwi, Bryan kesini kan buat ketemu kamu, tapi kok kamu malah diem aja, ngobrol dong. Lagian dia bisa bahasa Indonesia” Lanjut ibuku yang berbalik ke arahku.
Datang untukku? Yang benar saja, kelakuannya tidak memperlihatkan kalau dia tulus. Aku hanya bisa tersenyum memaksa.
“Mamah ini, Qiwi kan baru ketemu sekarang sama Bryan. Mungkin dia masih canggung. Benaarkan Qiwi? ” Ayahku ikut bicara.
“apa mungkin, Qiwi malu karena ada kita? Ya sudah mamah sama papah kedalem dulu ya. Ade ayo!” ajak ibuku pada ayah dan adikku. kali ini aku benar-benar kesal pada ibuku.
Aku dan Bryan duduk berdua di teras. Suasana yang tidak nyaman bila ini memang kenyataan, namun akan sangat manis jika scene ini ada dalam khayalanku (mungkin akan terjadi sesuatu? Hanya otakku yang tahu).
“kenapa kau bisa datang kemari?” Aku memulai pembicaraan
“ya, never thought, I’ll be here tonight. Hari ini adalah hari yang telah di rencanakan oleh ibuku, ia telah menyiapkan hari ini selama 6 tahun” aku tak mengerti apa yang ia katakan “karena rencana hari ini, aku harus belajar ekstra” aku tambah tak mengerti “Belajar bahasa Indonesia sejak umur 12 tahun, dengan alasan bahwa kelak aku akan sangat membutuhkannya” Sungguh aku tidak mengerti dengan apa yang ia bicarakan. Bryan menoleh ke arahku, dan mata birunya bersinar menerangi wajahku, sedangkan pandanganku yang hampir tidak berkedip hampir melubangi wajah tampannya.
“Hingga akhirnya aku tahu yang sebenarnya, semua yang ku lakukan adalah untuk hari ini, hanya untuk bertemu denganmu” Lanjut Bryan dengan nada sinis.
“Maaf” ucapku lemas. Aku baru mengerti, ternyata ia memang tidak tulus, ini semua adalah settingan ibunya ynag tak lain adalah sahabat ibuku, sebenarnya perjodohan ini bukan hanya khayalan, tapi memang orang tua bryan dan orang tuaku memang hendak melakukannya.
“bukankah kau yang menyukaiku, kenapa tidak kau saja yang belajar bahasa Inggris! Kenapa harus aku yang belajar bahasamu?” ujar Bryan dengan nada kesal
“ apa? apa kau lupa, ada darah Indonesia di dalam tubuhmu. Sudah sepantasnya kau bisa bahasa kami, karena kau juga bagian dari kami” Hardikku yang sudah tak tahan dengan sikapnya.
Tiba-tiba handphone Bryan berbunyi telpon dari ibunya.
“hallo, maam. No, I’m not. Aku masih menyimpannya di sakuku. Ya, aku akan segera memberikannya. Bye” Bryan mematikan sambungan teleponnya.
“tadi itu ibuku, orang yang sangat memperhatikanmu” ujar Bryan sedikit iri.
“benarkah, aku merasa tersanjung” jawabku tak kalah judes.
“ini, ibuku menitipkan sebuah paket liburan ke Malibu” Bryan menyerahkan dua buah tiket padaku.
“APA?” aku sangat syok.
“ini paket untuk 2 orang. Aku dan kau”
“APA?” Aku tambah syok (speechless)
“yaa.., aku ikut. Kau pikir ibuku akan mengizinkanku untuk meninggalkanmu seorang diri? Kenapa, apa kau kaget, atau bahagia? Ku dengar dari ibumu, kau selalu menanyaiku”
“ahh.. itu, ttttidak seperti itu” aku mencoba menyangkal. Bagaimana bisa ibuku menghianatiku.
“kau bertanya apa aku punya pacar, bagaimana sekolahku, bagaimana perasaanku padamu, orang yang seperti apa aku, dan masih banyak lagi” Ucapnya yang menjabarkan setiap pertanyaan yang memang pernah aku tanyakan pada ibuku. Aku hanya bisa terdiam dan menunduk malu. Bryan suudah tahu perasaanku padanya.
“karena aku takut kau bisa mati penasaran, aku akan menjawabnya sekarang. Aku mempunyai seorang gadis yang cantik dan pintar, aku selalu mendapatkan nilai yang bagus di universitas, saat aku tahu semua yang kulakukan hanya untuk bertemu denganmu, aku sangat membencimu, aku orang yang sulit beradaptasi dengan keadaan baru. Apa itu jelas?”ucap Bryan panjang lebar sambil menatapku lekat.
“Sebenarnya aku tidak mau tahu jawaban dari pertanyaanku itu. Dan perasaanku adalah milikku, aku tidak akan pernah memaksamu untuk bertanggungjawab untuk hatiku. Lagi pula kita baru saja bertemu. Tapi…” Aku berhenti dan sedikit ragu untuk melanjtukan.
“Tapi apa?” Tanyanya
“Tapi, kau tetap harus menjadi guideku di Malibu nanti.”
“Ohh, itu. Tentu saja, lagi pula aku sudah berjanji pada ibuku.” Jawab Bryan enteng.
“baiklah. Aku rasa kita harus istirahat. Lagipula kau sangat lelah bukan dengan semua keterpaksaan ini?” sahutku.
“okay benar sekali. Terima kasih untuk pengertiannya” jawabnya.
Apa? Bahkan dia tidak menyangkal keterpaksaannya, setidaknya dia bisa sedikit berbohong di hari ulang tahunku ini. Aku sudah tidak tahan lagi dengan keadaan yang menyebalkan ini, jalan terbaik adalah meninggalkannya dan pergi tidur.
***
Tidak pernah terbayangkan pagi ini akan menjadi awal dari sebuah nightmareku di Malibu nanti. Aku Qiwi, harus tetap tegar, say no to menyerah. Orang yang paling bahagia akan paket liburan ini adalah ibuku, yaa.. meskipun dia tak masuk daftar ajakan, tapi dengan Bryan yang akan selalu berada di sampingku nanti di Malibu, itu sudah membuat ibuku girang setengah mati. Aku sedikit ragu, aku telah kehilangan kepercayaan diriku, jauh di dalam diriku ada perasaan yang teramat sangat sedih. Bayangan akan sebuah cinta pada pandangan pertama hilang sudah, apa yang harus aku lakukan agar Bryan setidaknya tidak membenciku? Aku tak tahu, yang aku fikirkan malah bagaimana caraku untuk terus mencintainya tanpa menyakiti perasaanku. Apa itu mungkin? Bukankah bertepuk sebelah tangan itu sangat menyedihkan? Dan yang menyedihkan itu bukankah aku? Namun biarlah Malibu nanti yang akan menjawabnya.
Aku mencari keberadaan Bryan, namun dia tidak ada. Aku pun menanyakan keberadaannya pada ibuku, dan akhirnya aku tahu bahwa dia sudah berangkat pagi-pagi sekali dengan alasan akan membawa barang-barangnya yang ada di Hotel. Ia juga berpesan akan menungguku di bandara. Meleset dari perkiraan, aku fikir dia akan berangkat bersamaku untuk pergi ke bandara.
Ibuku mengantar kepergianku dengan adikku. Keceriaan masih saja menghiasi wajahnya. Sebelum aku pergi, ibuku berbisik “gunakan waktumu sebaik mungkin. Lihatlah bukankah dia begitu sempurna?” ibuku melambaikan tangannya kepada Bryan yang dibalasnya dengan senyuman. Ya.., Bryan Nampak sangat tampan dengan setelan jeans dan kemeja hitam, sederhana namun entah mengapa ia terlihat tampan, ah.. tidak dia saaaangat tampan. Bryan pun berjalan menghampiri kami.
“good morning ladies!” sapanya pada kami.
“pagi.., yaa ampun kau terlihat sempurna” jawab ibuku tulus. Bryan tersenyum bangga lalu kemudia menoleh ke arahku.”kau sudah siap untuk pergi?” tanyanya dengan raut waja yang berbeda : baik dan tulus. Aku hanya membalas dengan anggukan.
Entah kenapa, aku sangat takut naik pesawat. Seluruh tubuhku gemetar, aku sangat gugup. Tanganku mencengkeram bangku penumpang. Aku memejamkan mata, yng ku dengar hanya suara desingan mesin yang sangat keras. Tiba-tiba mataku membelalak, Bryan melakukan hal yang sangat mengejutkan “tenanglah, aku ada disini!” ujarnya sambil menggenggam erat tanganku. Aku membiarkannya menggenggam tanganku selama di perjalanan, untuk itu aku harus berterimakasih padanya, karena aku merasa terlindungi.
Akhirnya aku sampai di California. Bryan Nampak sedang mencari sesuatu, ah tidak tepatnya ia sedang mencari seseorang. Benar perkiraanku, dasar bule sialan. Seorang gadis pirang melambaikan tangannya ke arah Bryan yang di sambut lambaian tangan oleh Bryan “come here!” sahutnya pada wanita itu. Harusnya aku tidak melihatnya, Bryan memeluk wanita itu dengan mesra. Tunggu, sebenarnya apa maksud Bryan dengan semua ini? Apa wanita itu adalah kekasihnya. Oh ibu, aku sangat menyesal akan liburan ini.
“Qiwi, kenalkan. She’s Lisa, my girl” Bryan memperkenalkan Lisa padaku
“Hi, my name’s Qiwi, nice to meet you” jawabku berbasa-basi
“hi Qiwi, nice to meet you too” Jawab Lisa hangat
Poor Qiwi, aku hanya akan menjadi obat nyamuk bagi mereka. Di hotel tempat kami menginap aku sekamar dengan Lisa. Tidak salah, dia memang perfect. Dia cantik, rambutnya indah, kulitnya bersinar, tubuhnya tinggi semampai. Fisikly dia oke. Aku hanya bisa mengelus dada, tapi apa harus Bryan melakukan ini padaku sebagai hadiah ulang tahun? Apa dia benar-benar membenciku? Padahal selama di pesawat aku merasa dia bagai malaikat, tapi sekarang dia terlihat seperti Nazi. Gak salah, dia kan memang tetangganya Nazi.
***
Hari pertma di Malibu, aku , Bryan dan tentu saja Lisa pergi ke The Getty Villa. Sangat membosankan disana. Kami mengunjungi museum kesenian dan museum, aku sama sekali tak tertarik dengan semua hal itu, berbeda dengan Lisa yang banyak bicara dan manpak tahu segalanya. Ya.. aku lupa bukankah dia gadis yang pintar. Saat itu aku ingin sekali menarik tangan Bryan menjauh darinya. Mereka sangat tidak berperi kemanusiaan. Aku sudah ingin pergi, tapi aku tak tahu apa-apa tentang Malibu.
Akhirnya tur yang membosankan itu berakhir, kami pun makan siang di sebuah restaurant yang di pilih Lisa tentunya, dia mengatakan kata ‘delicious’ berkali-kali hingga aku muak mendengarnya, sayur asam lebih nikmat dari makanan ini.
“Qiwi, how the taste? Do you like your food?” Tanya Lisa padaku
“oh.., sure it’s so delicious” Jawaku ketus sambil menatap tajam ke arah Bryan.
“ya.., kau memang nampak sangat menikmatinya” Ujar brian membalas tatapan tajamku.
“Honey, this is for you. Just eat!” Lisa menyuapi Bryan. Itu membuat selera makanku bertambah. Aku tidak tahan melihat kmesraan mereka, mereka anggap apa aku? Aku pun berdiri dengan kesal “Bisakah kalian bersikap biasa saja. Dan kau Bryan apa kau tidak bisa makan dengan tanganmu?” hardikku kesal. “hey, what’s wrong with you?” Tanya Lisa padaku. Aku tak menyadari, aku hampir menangis saat itu, kenapa terasa sangat sakit. Bryan pun berdiri “apa kau cemburu?” aku tak tahan menghadapi Bryan, apa yang dia katakana pasti saja berhasil menyudutkanku dan membuatku malu.”bisakah sekarang kita pergi dari sini?” jawabku, tak mengiharaukan pertanyaan dua orang yang menyebalkan itu.
kami berkeliling mengitari Malibu, meikmati pemandangan dan suasana yang indah di sana. Akhirnya kami pergi ke Leo Carillo, disana kami menikmati keindahan pantai dan kemudian berjalan-jalan di taman kota, hari itu diakhiri dengan sejuta kejengkelan.
Akhirnya aku bisa surfing. Surfrider beach aku datang. Sayangnya aku tidak bisa surfing, meskipun Bryan bisa tapi mana mau dia menemaniku. Dia selalu sibuk berdua dengan Lisa.
“Bryan, kau tidak ingin surfing?” tanyaku padanya yang secara tidak langsung aku mengajaknya.
“tidak. Aku disini saja” jawabnya tanpa memperhatikanku.
Dengan sangat sedih, aku harus bermain sendiri, aku mengamati dari jauh ia sedang duduk bersama lisa di atas pasir pantai. Aku melihatnya tersenyum, senyum yang tidak pernah ia berikan padaku, senyum yang lembut. Aku tidak tahu bagaimana caranya surfing, meskipun aku ingin melakukannya namun aku harus mengurungkan keinginanku itu karena aku memang tidak bisa.daripada aku tidak melakukan apapun, lebih baik aku berenang, setidaknya hal itulah yang bisa kulakukan.
Aku merasakan keram pada kakiku. Gawat aku bisa tenggelam. Tidak, kakiku benar-benar keram. Bryan tolong aku, aku tidak bisa berenang, kakiku keram, lirihku dalam hati. Aku tidak bisa bernafas, aku merasakan air masuk lewat hidungku, terasa sangat sakit. Namun akhirnya aku bisa bernafas dan perlahan ku buka mataku. Yang pertama ku lihat adalah seorang lelaki yang menatapku cemas, menyedihkan dia bukan Bryan, tapi orang lain. “you baik-baik saje” ujarnya. Aku terbangun dan terbatuk-batuk “ya.., aku tak apa-apa” jawabku. “seharusnya you tak berenang sendiri” ujar pria itu lagi. Dari logat bicaranya, sepertinya ia orang Malaysia “terima kasih atas bantuan anda” jawabku tulus. “tak apa. Kau orang Indonesia ke?” tanyanya, aku hanya membalasnya dengan anggukan. “I’m Adam, from Malaysie” dia memperkenalkan diri. “namaku Qiwi” jawabku. “kau liburan disini?” tanyaku “no, saya sedang bekerja. I’m a fhotografer, kebetulan je ada pemotretan di sini” aku menganggukkan kepalaku tanda mengerti.
Setelah agak sore, Adam mengantarku kembali ke hotel tempatku menginap.
“kalau you ada waktu, jumpa saya besok di pantai ni. Aku akan sangat senang.” Ujar Adam
Aku berfikir sejenak, meskipun ada Bryan tapi aku disini sendiri. Tidak ada salahnya aku bersenang-senang dengan pria Malaysia ini, lagipula dia tidak kalah tampannya, terlebih dia baik padaku. “tentu, aku akan datang” Jawabku.
Sesampainya di depan pintu kamar, Bryan menghalangiku.
“where you have been?” dia berteriak padaku
“kau tidak perlu tahu” jawabku sambil akan membuka pintu kamar, namun tangan Bryan menarik tanganku dengan kasar “kau tahu, aku hampir mati mencarimu, kenapa kau sangat menyebalkan. Lalu siapa laki-laki yang tadi bersamamu. Apa kau ini wanita gampangan?” hardik Bryan padaku. Kata-katanya membuat mataku membelalak, jelas-jelas itu sangat menyakitiku. Air mata yang selalu ingin ku tahan, akhirnya tumpah tak tertahankan, reflex aku menamparnya. “pantaskah kau berbicara seperti itu? Lalu kemana kau saat aku hamper mati tenggelam? Kemana kau yang telah berjanji menjagaku? Kemana?” aku menangis sejadi-jadinya. “apa? Tentelam?” ujar Bryan lemah. Lalu tak lama pintu kamar terbuka, lisa datang menghampiri kami. Ia bertanya apa yang terjadi, namun aku tak menjawabnya. aku masuk ke dalam kamar. Lisa menghampiriku, dengan keadaanku yang sedang buruk, aku tidak mungkin bisa bersikap baik padanya. Aku hanya bisa diam dan tak menghiraukannya.
Jam makan malampun tiba, Bryan mengetuk pintu kamar dan mengajakku dan Lisa untuk makan malam, sebenarnya aku enggan namun apa daya aku sangat kelaparan. Di restaurant, aku dan Bryan tak saling bicara. Lisa memilihkan makanan untuk Bryan, sayangnya, yang ia pilihkan adalah makanan yang mengandung udang.
“Bryan, bukankah ibumu bilang kau alergi seafood” aku harus mengalah dan berhenti marah padanya karena aku khawatir.
“aku sangat menyukai seafood” jawabnya ketus, mungkin ia masih marah padaku.
Kami pun makan dalam keheningan, dan lisa pun menyadari bahwa aku dan Bryan sedang berada dalam perang dingin.
Benar saja apa yang aku katakan, alegi Bryan kumat. Seluruh tubuhnya memerah dan gatal-gatal. Aku sangat menghawatirkannya, mungkin dia sekarang tak bisa tertidur karena hal itu. Aku pun memaksakan diri untuk pergi ke kamar Bryan untuk memberikannya obat yang sengaja aku bawa dari rumah. Aku mengetuk pintu, namun Bryan tak juga menbukanya, aku pun membukanya sendiri. Aku mendapati Bryan yang sedang terkulai lemas di atas sofa, dia tampak sangat pucat. Ya ampun ternyata dia demam. “bryan kau tidak apa-apa?” tanyaku cemas “I don’t know, it’s so cold” jawabnya dengan menggigil. Akupun memberinya obat lalu aku membaringkannya di tempat tidurnya “istirahatlah, aku akan mengambil air untuk mengompresmu” ujarku, dia hanya mengangguk lalu menutup matanya.
Aku membuka mataku, Nampak Bryan tengah tertidur di depanku. Aku pun mengecek kembali suhu tubuhnya “panasnya sudah turun” tugas terakhirku adalah menyiapkan sarapan untuknya. Setelah selesai aku pun cepat-cepat pergi.
Aku sibuk mencari baju yang cocok untukku. Ahh.. aku bingung sekali, kenapa tidak ada pakaian yang bagus, menyebalkan. Aku akan menemui Adam di pantai, akhirnya aku mempunyai teman. Adam Nampak sibuk memotret modelnya. Model itu mengenakan gaun batik yang sangat indah. Adam melihat ke arahku, aku melambaikan tanganku padanya yang ia balas dengan lambaian yag sangat bersahabat. Ia berteriak “wait” aku tersenyum dan membalasnya dengan anggukan.
Adam telah selesai dengan pekerjaannya. Ia menghampiriku “maaf, dah buatmu menunggu lama” ujarnya “ah tidak, kau terlihat keren saat memotret” pujiku. “benar ke?” tanyanya senang. Aku mengangukkan kepala membenarkan.
Adam, dia sangat baik padaku, dia memperlakukanku dengan lembut tidak seperti Bryan yang selalu kasar. Kami pun menghabiskan waktu berjalan-jalan di pinggir pantai.
“modelmu memakai batik” ujarku
“ya.., jangan salah faham. Itu model Indonesia. Gaun yang dikenakan model itu adalah rancangan designer Indonesia, untuk pameran batik”
“benarkah? Aku sangat bangga. Kau pasti fotografer yang sangat profesional”
“tentu saja. look ada apa disana tuh?” Adam menujuk ke suatu tempat. Aku melihat ke arah yang ditunjuk Adam, namun tak ada apapun disana. Saat aku berbalik ke arahnya dengan cepat ia memotretku “lihatlah, wajah bingungmu sangat lucu” ujarnya sambil memperhatikan cameranya. “hey, kau mencuri fotoku” aku mengambil kameranya “tidak buruk” gumamku. Kami pun tertawa bersama.
Adam mengajakku untuk melihat papan Hollywood, aku hampir lupa disinilah tempat para bintang dunia. Tulisan itu menjulang tinggi indah, Adam pun memotretku disana. Kami berjalan-jalan di sekitar Malibu, dan bersenang-senang di taman kota tentunya sambil berfoto ria. Kami mencoba topi, kacamata dan kami makan eskrim bersama. Ini baru namanya liburan, aku sangat senang.
“I’ve saw you in the art museum. ” ujar Adam
“ya, itu hari pertamaku disini”
“siapa mereka. Orang yang bersamamu”
“mereka temanku”
“sepertinya. Kedua orang tu adalah pasangan kekasih. Benar ta?”
“seperti itulah” jawabku lemas
“kurasa sebentar lagi sore, aku harus kembali ke teman-temanku” lanjutku
“”tak bisa ke kita melihat sunset sebentar je?” sahutnya
“maaf, teman-temanku pasti sangat khawatir”
“baiklah. Qiwi, besok malam ada pameran busana, apa you bisa temani I? Pakailah gaun ini!” Adam menberikan gaun pink yang cantik.
“sebuah kehormatan untukku, terima kasih. Gaun ini sangat cantik” aku sangat senang menerimanya.
Aku dan adam sampai di pintu hotel, aku berpapasan dengan Bryan dan Lisa, namun Bryan berjalan seolah-olah tak mengenalku. Adam heran melihatnya.
“bukankah mereka temanmu, iya ke?” tanyanya padaku
“ah mungkin dia tak melihatku” jawabku
“mungkin. Ah baiklah aku harus segera pergi. Sebentar lagi akan ada pemotretan”
“Adam” panggilku
Adam menoleh ke arahku “terima kasih untuk hari ini” sahutku padanya. Ia hanya tersenyum manis “sampai ketemu besok malam” sahutnya “tentu saja” jawabku.
Selasa, 10 Juli 2012
Dinasti atau Demokrasi?
Dinasti dan Demokrasi, dua kata yang sama tak lepas dari pemerintah, perintah dan orang yang diperintah. Dinasti berlaku pada masa lalu, dan dipakai dewasa ini di beberapa Negara di dunia.
Sebenarnya apa yang akan saya bahas dalam artikel ini? Karena sekarang sedang marak dengan pilkada, dan bahkan sebentar lagi akan memasuki pemilu pemilihan presiden, maka artikel ini saya tulis untuk memperhatikan pengalihan kekuasaan menurut Dinasti dan Demokrasi.
Kampanye, spanduk, baliho, visi, misi, janji manis, suap menyuap, hal itu mewarnai acara agung : PEMILU. Inilah budaya demokrasi, dimana pemimpin dipilih langsung oleh rakyatnya. Demokrasi, pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Masalahnya adalah, apakah rakyat memang mengenal siapa calon pemimpin yang mereka pilih? Sungguh disayangkan, 90% warga Indonesia tak peduli akan politik dan hukum. Bahkan, sebagian mereka berkata “ untuk apa memilih mereka (pemimpin)? Apa kami akan diberikan nasi saat lapar, jika kami memilih mereka?” ya.., itulah pemikiran mereka yang akhirnya golput. Kebanyakian dari mereka tak mengerti betapa berpengaruhnya pilihan mereka. Sebenarnya, para pemimpin itu tak akan datang dan menberikan nasi saat kau menjerit kelaparan, mereka tak akan menaiki helicopter dan membuat hujan uang, namun, mereka bisa membantu rakyat dengan kebijakan yang mereka ambil, kebijakan yang benar-benar bijak.
Kembali ke permasalahan awal. Di era demokrasi, pada masa kampanye begitu banyak uang yang para kandidat buang hanya untuk membuat iklan, baliho, pawai dan hal-hal yang bisa membuat mereka terlihat di sepanjang jalan kota, dan terlihat eksis di masyarakat. Hampir semua kandidat pasti mempunyai visi memberantas kemiskinan. Jika kita pikirkan lagi, hal ini lucu begitu memalukan mendengar omong besar mereka. Seperti menyaksikan seorang pengangguran yang sedang meminta pekerjaan dari rakyat. Bohong jika mereka melakukan ini untuk Negara dan atas nama rakyat, karena sebagai manusia mereka memerlukan matetri untuk bertahan hidup, dan posisi di pemerintahan adalah posisi yang sangat menjajikan.
Jika kita fikirkan lagi, bukankah ajang kampanye adalah ajang penghamburan uang? Jika memang bapak/ibu yang menjadi kandidat murni ingin memajukan bangsanya di bawah naungannya, mengapa ia begitu ambisius, membuat baliho dimana2, memasang iklan di TV, untuk apa sebenarnya itu? Untuk rakyat? Jika memang begitu, mengapa mereka tidak memberikan uang itu untuk makan rakyat jelata? Sungguh disayangkan, ini sangat memalukan. Hal yang mengecewakan, hal yang berulang kali terjadi : diangkat, dipilih, menjabat, dan berakhir buruk di mata rakyat.
Pemilu memang bagus, semua orang bisa berkesempatan untuk menjadi pemimpin, dan takyat yang memilih, namun kembali lagi, apakah rakyat Indonesia mengenal mereka dan apa mereka juga mengenal rakyat Indonesia? Dewasa ini, pemilu hanya sebuah acara formalitas, karena sebenarnya rakyat sudah tidak peduli dengan politik yang abu, siapa pemimpin selanjutnya, mereka tak perduli, toh harga sembako tak pernah menjadi murah, toh biaya pendidikan tetap mahal, toh pekerjaan tetap sulit dicari. Toh korupsi tumbuh subur.
Demokrasi apa ini? Semua ada di tangan rakyat? BOHONG, semuanya ada di bawah kendali si kuat, yang pasti bukan rakyat.
Dinasti, di era dinasti pemeritah diberikan secara turun temurun. Tak ada kampanye tentunya, yang meghamburkan uang. Namjun, disini rakyat tak muingkin berksempatan untuk menjadi pemimpin.
Kalau kita telaah, semuanya sama saja, baik dinasti maupun demokrasi. Di pilih rakyat atau tidak dengan cara dipilih oleh rakyat semuanya sama saja. Rakyat jelata tetap rakyat jelata titik. Jadi, apakah sebuah system yang masih dipersalahkan?
Sabtu, 26 Mei 2012
Hari ini : 26 Mei 2012
Hidup itu hanya ada 2 pilihan : laki-laki perempuan, siang malam, susah senang. Hari ini aku menyaksikan begitu banyak tawa menghiasi teman-temanku di negeri ini “AKU LULUS” Mereka berteriak dan gembira, tak terkecuali aku terima kasih Tuhan untuk nikma-tMu yang indah ini. Aku bukan nona SMA lagi, aku seorang gadis dewasa sekarang, entah bagaimana aku memperlakukan hidupku hingga tak terasa aku telah melangkah pasa fase yang lebih tinggi dalam hidupku yang masih pagi ini.
Aku lupa, diantara tawa, pasti akan ada tangis, benarkan? Bagaimana dengan mereka, saudaraku yang sama-sama berjuang denganku yang tak bias berkata “AKU LULUS” . Apakah air mata masih bias meringankan sakit yang bersemayam di hati mereka? Teman..., engkau yang disana yang sedang menjadi lelah dengan hidup, dan menjadi benci dengan sebuah nilai yang tertera dalam secarik kertas yang bias membuatmu begitu hancur, dengarlah ini... aku yang bodoh dan tak berguna
“kurasa kau tahu bahwa ada rencana besar yang bersembunyi di balik semua ini, yakinlah ”
Aku lulus, aku lulus. Selanjutnya adalah rencana akan senuah Universitas. Aku mendapat rekomendasi untuk mengikuti SNMPTN undangan. Itu hanya akan terjadi satu kali di dalam hidupku, aku akan merasa terhormat. Meskipun aku tidak diterima di undangan, tapi aku bahagia karena setidaknya aku menapatkan kehormaytan itu yang tak akan ku lupakan dalam hidupku.
Kini aku rasa aku telahsiap melangkah, lebih mengenal akan sebuah kehidupan dan mencari kedewasaan. Aku akan memulai dan tak akan melupakan kenangan-kenangan yang telah tersimpan dalam ingatanku akan hari kemaroin saat aku menjadi nona manis, saat menjadi seorang remaja.
Sabtu, 31 Maret 2012
Mr.England
“Happy birth day to you…
happy birth day to you…,
happy birth day,
happy birth day Qwinnic ”
Inilah lagu yang cocok banget dinyanyiin dimalam penuh bintang ini, meskipun kebanyakan nyanyinya ada yang fals, sumbang dan sebagainya (kaya gak ikhlas). Saran gw buat yang ulang tahun mendingan nyewa paduan suara atau artis organ sekalian, buat nyanyi Happy Birth Day biar enak didengernya. Tepat hari ini gw ulang tahun yang ke-17. Kata orang-orang sih angka 17 dalam hidup itu angka yang sacral, angka dimana udah dianggap dewasa, angka dimana kita udah dianggap pinter(pinter boong, pinter belajar, pinter jajan, pinter pacaran). terus saat kita berusia 17 tahun, kita bisa bikin KTP, SIM (bisa juga Surat Izin Menikah) and tentunya udah pantes pacaran (he.. he..).
Kenalin nama gw Qwinnic. Kepanjangannya Qwinnic Coqueta, orang-orang biasa manggil gw Qiwi.Gw blasteran Jawa-Sunda (Heran ya… Blasteran Jawa-Sunda tapi namanya kaya bule Belanda), berambut ikal hitam dengan kulit hitam, mata bulat yang hitam ,idung mancung, bibir tebal hitam dengan tinggi badan rata-rata(ha..ha.. itu sih blasteran Jawa-Papua), anak kelas 3 SMA Di Bandung dan siap melepas gelar SMA dengan bangga di tahun ini.Eits… ngomong-ngomong 17, gw penasaran sama yang namanya sweet seventeen itu kaya gimana rasanya? Sweet dalam pacaran maksudnya? I don’t know. Sebelum gw niup lilin yang tertancap di atas cake pink bertingkat 3 yang so sweetnya gak nahan, gw mejemin mata dulu sambil make a wish diawali dengan tarikan nafas panjang dan mulai berdoa : semoga di usia gw yang udah 17 tahun ini gw bisa ngerasain sweet seventeen yang sering dibicarain sama orang-orang. Semoga gw bisa ketemu sama pangeran impian gw, semoga gw bisa mengakhiri gelar jomblo yang melekat didiri gw selama bertahun-tahun ini. Amin!. Aneh ya wishnya kaya gitu, he..he.. tapi kan yang namanya doa harus sesuai kebutuhan.
Satu persatu temen gw cipika-cipiki sambil ngasih kotak yang dihias so imut (padahal entar juga gw sobek-sobek dengan buas) dan tentunya bilang “Happy birth day Qiwi!” tak terkecuali Siska dan Rara. Mereka adalah teman seperjuangan gw disekolah, mereka tuh sahabat gw yang the best dan satu lagi wish gw, gw gak mau kehilangan sahabat kaya mereka. Love unyu-unyu deh…!. Gak ada prince berkuda putih datang secara tiba-tiba di pesta ulang tahun gw dan ngasih sebuah cincin berlian yang bertahtakan hati (alah alay dot kom) kaya di kebanyakan sinetron atau FTV, tapi gw sering juga sih berharap kay gitu, sayangnya gak pernah kejadian. Ngomongin Wish gw yang terakhir (mengakhiri masa jomblo), Gw termasuk malang dan tak beruntung. 3 tahun di SMA gw belum dapet mantan satupun gak kaya kedua temen gw Siska sama Rara .
Kebanyakan temen gw, ngasih gw kamus bahasa Inggris-Indonesia sama Alfalink , gara-gara gw tulalit dalam berbahasa Inggris (Kenapa gak sekalian ngasih gw bulenya aja biar bisa sekalian gw pacarin tuh bule). Gw kan cinta Indonesia, so.. gak perlu malu kalo gak bisa bahasa Inggris. Kata temen-temen gw sih, gw keberatan sama nama gw yang kebarat-baratan (Salah itu ,yang ada itu nama yang keberatan sama gw. Ha.. ha..).
Hari minggu pagi, nyokap gw gak biasa-biasanya sibuk ngerumpi di telpon. Tapi gak papalah dari pada sibuk ngomel gw yang males mandi. Nah… di ruang TV ada papah lagi asyik baca Koran. Samar-samar gw ngeliat salah satu artikel tentang gayus tambunan yang di penjara tapi bisa ke Bali (Mantap… yah ! tahanan masa kini, punya ilmu rawa rontek kali yang bisa ngilang atau punya ilmu suap yang tinggi. Haaaahaa, hanya dia, kepolisian dan tuhan yang tahu).
Pas gw sarapan sama Mamah, papah, dan adek gw. adek gw menorah kearah gw dan tersenyum sendiri. Gw salah tingkah dong, emang ada yang lucu didiri gw?. Gw langsung usap-usap muka gw aja, kali aja ada sesuatu yang nempel (tapi gak ada). “Heh kunyuk.. kenapa lu ngetawain gw?” tanya gw ke Adek gw si Pinno. “Tanya aja sama mamah!” jawab si Pinno. Mata indah gw langsung mengarah ke mamah yang sedang lahap memakan nasi goreng buatan Bi Minah. “ini soal kesepakatan papah sama mamah buat… buat…” ucap mamah dengan ragu-ragu. “Buat apa mah?” tanya gw dengan penuh rasa ingin tahu yang kuat dan semangat yang menggebu-gebu. “buat jodohin kamu sama si Bryan anaknya Tante Dian yang ada di Inggris itu” lanjut mamah. “What?” jawab gw kaget dengan mata yang hampir keluar dan bibir nganga (sebenernya pura-pura, supaya keren aja biar kaya di film-film). Suasana hening sejenak kecuali Pinno yang masih cengengesan. “Bule ganteng itu, yang ada di album foto tahun baruan kemaren?” tanya gw dengan penuh semangat dan senyum kepuasan (kapan lagi dapet bule ganteng). “Kamu setuju?” tanya papah. “Dengan senang hati, kalo dipaksa he… he..” jawab gw sambil menebar senyum kemenangan.
Gw gak nyangka, lamaaaaaa gw ngejomblo eh pas dapet langsung bule. Mana Bulenya kagak nahan lagi. Nama lengkapnya Bryan Wicaksono, perawakan tinggi, rambut item agak-agak coklat, idung mancung, kulit bule bener. Pokoke mak nyos. Tapi ada beberapa kendala yang bikin gak enak. Pertama, gw belum pernah ketemu sama dia secara langsung. Kedua, gw gak bisa bahasa Inggris, gimana bisa nyambung kalo gak bisa ngobrolnya. Tapi kendala yang paling berat adalah : dianya mau gak sama gw?. Gw mesti puter otak, kesempatan itu gak boleh gw sia-siain. Meskipun Bryan punya darah Indonesia, tapi dia itu lahir dan di besarkan di Inggris, jadi dia gak bisa bahasa Indonesia. Menurut gw, kamus sama Alfalink itu gak cukup buat bikin gw pinter bahasa Inggris dalam waktu 2 bulan (Secara 2 bulan lagi, Bryan sama keluarganya mau ke Indonesia). Kata Siska sih, mendingan gw les kilat aja. Les bahasa Inggris gitu biar keren. Kebetulan kakak pacarnya punya temen guru les bahasa Inggris (ide bagus dalam kondisi genting ini meskipun gw males).
Akhirnya di suatu siang, gw dianter Siska sama Rara buat ketemu guru les gw. “alah gaya lu, pake jodoh-jodohan sama bule segala” ejek Siska. “Gw juga baru tau kemaren. Itu namanya pucuk dicinta ulam pun tiba! Ah.. sirik aja lu” Jawab gw dengan penuh kebahagiaan. Siang itu Kita janjian di CafĂ© gak jauh dari sekolah gw. “Eh.. eh.. itu orangnya dateng!” Ucap Siska sambil jari telunjuknya yang lentik berkutek pink menunjuk kepada seorang cowok dengan kemeja putih garis-garis dengan jeans panjang , kira-kira umurnya 20an. Mukanya juga cute, badannya lumayan tinggi, ya.. bisa dibilang baguslah (tapi kayaknya bagusan tunangan gw si Bryan). “Hi.. Mr.Ifan” sapa Siska pada cowok yang sedang menghampiri gw, Rara dan Siska. “Hi,, Sis, gak perlu pake Mr kali, panggil Ifan aja!” Ucap cowok yang pinter bahasa Inggris itu. Gw langsung nyuruh Mr.Ifan duduk dan memulai ke pokok pembicaraan. “Jadi gini Mr.Ifan, Saya Qiwi. Saya mau belajar bahasa Inggris sama mister. ” Ucap gw untuk memulai pembicaraan (Jangan tanya kenapa Rara gak ikut ngomong, dia lagoi asyik BBMan sama cowoknya). “dengan senang hati” Jawab Mr.Ifan dengan senyuman. Ya, kesan pertama ketemu sih kayanya dia orangnya baik dan sopan, itu terlihat dari cara dia bicara.
Hari pertama, gw belajar dirumah gw. Mr.Ifan langsung ngasih materi yang terdasar buat pemula kaya gw (sebenernya bukan pemula sih, dari SD gw udah belajar bahasa Inggris tapi gw gak terlalu ngerespon). Dia ngajarin gw gimana caranya ngenalin diri pake bahasa Inggris, cara minta izin atau minta maaf, cara bertanya dan lain sebagainya. Kesan gw buat Mr.Ifan itu, adalah dia itu tipe cowok yang sangat sopan dan menghargai orang. Pada dasarnya gw emang pinter jadi dalam jangka waktu yang tidak lama, ya.. kira-kira 2 minggu gw udah bisa cara memperkenalkan diri dan bertanya. Waktu yang sangat singkat dibanding sekolah bertahun-tahun.
Sebulan lebih udah gw belajar Inggris sama Mr.Ifan. Dia udah kayak kakak buat gw. Kata Mr.Ifan belajar bahasa Inggris itu gak cukup dengan teori doang. “Supaya kamu lebih bisa, Kamu sering nonton film Hollywood aja yang gak pake translate atau dengerin music barat!” Kata Mr.Ifan. “oh.. siip, buat tunangan aku tercinta apapun akan dilakukan, he..he..” Jawab gw dengan sedikit becanda. Mr.Ifan hanya tersenyum dan ngacak-ngacak rambut gw. Coba aja kalo gw belum di jodohin sama Bryan, pasti gw mau jadi pacar dia.
Gw ngerasa deg-degan, rasanya jantung gw mau copot. Besok adalah tepat 2 bulan yang gw tunggu-tunggu. Tapi gw ngerasa sedih karena gw udah bisa bahasa Inggris (meskipun sedikit) dan itu artinya gw gak bisa becanda sama Mr.Ifan lagi. Ahh.. gw harus buang pikiran itu jauh-jauh. Esoknya, gw sama keluarga gw ke Bandara buat jemput Bryan dan keluarganya. Kata mamah sih, Bryan lansung suka sama gw pas liat poto gw waktu ulang tahun yang mamah kirimin lewat E-Mail (wah.. cinta gw terbalaskan). Tiba di Bandara gw jadi gak pede, gw takut grogi ngomong Inggris meskipun gw udah bisa. Gw mikir kata-kata apa ya yang cocok buat mengawali pembicaraan nanti. Aduh pokoknya enggak banget deh.
Akhirnya Bryan datang juga. Waw, emang gak salah. Aslinya Bryan lebih Cool dari poto yang mamah kasih ke gw. Gw sangat menikmati pemandangan yang sedangn gw saksikan itu, Hingga akhirnya adek gw ganggu pandangan gw. “Biasa aja Kak, gak usah mimisan. hahahah” Ucap adek gw sambil tertawa puas. Gw Cuma bales pake tatapan tajam hingga bikin adek gw itu diem lagi. “Eh mbak Dian, selamat datang Mbak. Apa kabar? Udah lama gak ketemu ya..” Sambut mamah yang langsung memeluk calon mertua gw. Sementara itu, mata gw ngelirik Bryan yang kelihatan gagah dengan sweater hitamnya. Ternyata Bryan pun melihat kearah gw dan ngasih senyuman yang langsung gw bales pake senyum maut. “Baik jeng, gak kerasa ya, anak kita udah pada besar” Jawab Tante Dian ke mamah gw. “Ya sudah mari, kita ke mobil, come on sir!” Ucap papah gw ke bokapnya Bryan yang terlihat masih muda. “Qiwi, mobil mamah gak muat, jadi kamu sama Bryan yah!” Ucap mamah ke gw. “ah..? iya mah.” Jawab gw sambil pura-pura malu gitu padahal aslinya gak tahu malu.
Di mobil, gw punya kesempetan buat lebih mengenal Bryan dan sekalian cuci mata (aduh senagnya hatiku di kasih vitamin C=Cinta). “I like the view. This is Bandung?” Tanya si bule itu sambil menoreh ke arah gw. “Ya.., ” jawaban gw yang singkat, padat dan jelas (masalahnya gw takut salah ngomong). Bryan ngomong lagi : “we never know any other before, but I believe that we can make a good relation like now”. Gw gak konsen banget, akhirnya gw cuma ngasih senyum sama dia sok ngarti padahal gw Cuma faham sebagian. 10 menit sudah selama perjalanan gw nyoba memberanikan diri buat ngomong ke dia “I hope, you’ll enjoy with me!” Ucap gw ke Bryan (itu kata Yang gw inget yang pernah di ucapin Mr.Ifan waktu gw masih gak bisa bahasa Inggris). Pandangan gw terarah antara melihat Bryan dan melihat jalan(coz gw lagi nyetir). Sementara itu Bryan menorah ka arah gw, gw rasa dengan wajah serius. “Honest, I can’t forgetting you since I saw your photos. I know, may be you’ll think that it’s so crazy”.(gila tuh bule, terang-terangan banget) Aduh gw udah GR banget, rasanya gw lagi terbang melayang bersama burung-burung yang bernyanyi indah saat gw denger dia ngomong gitu. “Same here, I felt it too” jawab gw sambil nahan pengen jingkrak-jinkrak.
Singkat kata, gw pun lulus dan pertunangan pun tiba. Acaranya di adain di Bali sekalian gw sama keluarga Bryan liburan disana dan enggak lupa juga pedekate. Pestanya dibuat meriah dengan suasana yang anak muda abis. Disana ada temen-temen gw dan kebanyakan temen-temen orang tua gw sama orang tua Bryan. Disana juga datang Mr.Ifan (saat itu gw ngerasa kangen sama dia). “Hi, Qiwi! What a suit couple” Ucap Mr.Ifan yang kayanya basa-basi . “Thanks Buddy” Jawab Bryan sambil menepuk punggung Mr.Ifan. entah kenapa gw gak bisa berkata-kata, I just could say thanks. Acara pun di mulai. Kami, gw sama Bryan saling bertukar cincin dan telah resmi bertunangan di pulau para dewa yang indah, Bali. Semua yang gw alami seakan sebuah mimpi yang berubah menjadi nyata dan terasa begitu nyata. Hal yang berawal hanya ada dalam mimpi indah gw kini bisa gw rasakan dengan sangat jelas.(lebay)
Emang sih gw baru 17 tahun, tapi gak ada salahnya kan buat tunangan? Dari pada gw pacaran sama orang gak jelas, nanti hidup gw yang udah gak jelas malah makin gak jelas. Sebenernya gw masih bingung, kok mau ya si Bryan tunangan sama gw. Secara di negaranya kan cewek yang 1000x cute dari gw itu seabrek. Whatever, in the fact banyak orang bule yang terpesona sama orang Indonsia, buktinya Tante Dian. Dia bisa nikah sama Om Rodelf gara-gara tabrakan di tempat pariwisata di Jogja. Emak gw aja yang dapet bokap gw dari Jawa, padahal temen FaceBooknya kebanyakan bule.
Hari ketiga di Bali, gw ngerasa ada yang aneh sama Bryan. Meskipun gw ada disisinya dia gak segan-segan buat ngegoda tourist yang sedang berjemur di pantai. “Hi… sweety!” begitulah Bryan menyapa cewek-cewek bule itu (Mungkin orang bule kalo nyapa cewek gitu kali). Tapi gw masih maklumin itu, mungkin di Inggris dia begitu. Tapi apa itu wajar, dia seolah gak ngehargain gw. Saat itu gw gak tahan ngeliatnya dan gw langsung pergi ninggalin dia tanpa dia tahu. Mungkin saat itu gw cemburu atau kesal atau apalah itu yang pasti gw bĂȘte banget. “I don’t like the way you did to those girls !” Kata gw. “hey, somebody jealous here” Jawab Bryan sedikit menyindir, “come on baby, I’m not serious. I thought you know that I love you so much” lanjutnya.” I never know, you never show it to me” Jawab gw dengan suara agak meninggi. Tiba-tiba Bryan terdiam dan menatap mata gw dengan mata birunya yang bersinar menyinari hati gw yang lagi empet. Dan gw bales buat natap matanya balik. Gw lihat mata itu semakin mendekat, terus mendekat, mendekat dan…… “QIWI…..!!!!” tiba-tiba terdengar suara cempreng dari kejauhan manggil nama gw. Seketika semuanya menjadi buyar. “Qiw… kenapa lu, lagi ulang tahun kok ngelamun?” tanya Siska sampil nepak punggung gw. “Ah Siska… lu ngehancurin semuanya!!!” gerutu gw. “Apa sih lu…” jawab Siska. Dasar teman yang tidak pengertian, padahal sebentar lagi Si Bryan nyium gw. “Uda lah.., biasa temen kita yang satu ini suka ngayal gak jelas… ha..ha..” ejek Rara sambil mainin rambut ikalnya yang diwarna.
“Lu dicari nyokap lu, ada tamu tuh”
“Tamu? Bukannya semua tamu udah pada dateng”
“Mana gw ta
Mengetahui itu, gw langsung beranjak dari kursi yang sudah menjadi saksi akan hayalan gw yang gagal. Dengan langkah yang lemas dan agak ngesot gw langsung nyamperin nyokap gw. “ada apa mah?” tanya gw. “Tunggu sebentar ya!” jawab mamah dengan senyum penuh arti. Mamah pun pergi ke ruangan depan. Setelah menunggu sebentar, mamah kembali dengan seseorang yang gw kenal, seseorang yang gw…. YA AMPUNNNN…. Bryan dateng ke pesta gw.
Nina Minawati M
SMAN 2 Purwakarta
happy birth day to you…,
happy birth day,
happy birth day Qwinnic ”
Inilah lagu yang cocok banget dinyanyiin dimalam penuh bintang ini, meskipun kebanyakan nyanyinya ada yang fals, sumbang dan sebagainya (kaya gak ikhlas). Saran gw buat yang ulang tahun mendingan nyewa paduan suara atau artis organ sekalian, buat nyanyi Happy Birth Day biar enak didengernya. Tepat hari ini gw ulang tahun yang ke-17. Kata orang-orang sih angka 17 dalam hidup itu angka yang sacral, angka dimana udah dianggap dewasa, angka dimana kita udah dianggap pinter(pinter boong, pinter belajar, pinter jajan, pinter pacaran). terus saat kita berusia 17 tahun, kita bisa bikin KTP, SIM (bisa juga Surat Izin Menikah) and tentunya udah pantes pacaran (he.. he..).
Kenalin nama gw Qwinnic. Kepanjangannya Qwinnic Coqueta, orang-orang biasa manggil gw Qiwi.Gw blasteran Jawa-Sunda (Heran ya… Blasteran Jawa-Sunda tapi namanya kaya bule Belanda), berambut ikal hitam dengan kulit hitam, mata bulat yang hitam ,idung mancung, bibir tebal hitam dengan tinggi badan rata-rata(ha..ha.. itu sih blasteran Jawa-Papua), anak kelas 3 SMA Di Bandung dan siap melepas gelar SMA dengan bangga di tahun ini.Eits… ngomong-ngomong 17, gw penasaran sama yang namanya sweet seventeen itu kaya gimana rasanya? Sweet dalam pacaran maksudnya? I don’t know. Sebelum gw niup lilin yang tertancap di atas cake pink bertingkat 3 yang so sweetnya gak nahan, gw mejemin mata dulu sambil make a wish diawali dengan tarikan nafas panjang dan mulai berdoa : semoga di usia gw yang udah 17 tahun ini gw bisa ngerasain sweet seventeen yang sering dibicarain sama orang-orang. Semoga gw bisa ketemu sama pangeran impian gw, semoga gw bisa mengakhiri gelar jomblo yang melekat didiri gw selama bertahun-tahun ini. Amin!. Aneh ya wishnya kaya gitu, he..he.. tapi kan yang namanya doa harus sesuai kebutuhan.
Satu persatu temen gw cipika-cipiki sambil ngasih kotak yang dihias so imut (padahal entar juga gw sobek-sobek dengan buas) dan tentunya bilang “Happy birth day Qiwi!” tak terkecuali Siska dan Rara. Mereka adalah teman seperjuangan gw disekolah, mereka tuh sahabat gw yang the best dan satu lagi wish gw, gw gak mau kehilangan sahabat kaya mereka. Love unyu-unyu deh…!. Gak ada prince berkuda putih datang secara tiba-tiba di pesta ulang tahun gw dan ngasih sebuah cincin berlian yang bertahtakan hati (alah alay dot kom) kaya di kebanyakan sinetron atau FTV, tapi gw sering juga sih berharap kay gitu, sayangnya gak pernah kejadian. Ngomongin Wish gw yang terakhir (mengakhiri masa jomblo), Gw termasuk malang dan tak beruntung. 3 tahun di SMA gw belum dapet mantan satupun gak kaya kedua temen gw Siska sama Rara .
Kebanyakan temen gw, ngasih gw kamus bahasa Inggris-Indonesia sama Alfalink , gara-gara gw tulalit dalam berbahasa Inggris (Kenapa gak sekalian ngasih gw bulenya aja biar bisa sekalian gw pacarin tuh bule). Gw kan cinta Indonesia, so.. gak perlu malu kalo gak bisa bahasa Inggris. Kata temen-temen gw sih, gw keberatan sama nama gw yang kebarat-baratan (Salah itu ,yang ada itu nama yang keberatan sama gw. Ha.. ha..).
Hari minggu pagi, nyokap gw gak biasa-biasanya sibuk ngerumpi di telpon. Tapi gak papalah dari pada sibuk ngomel gw yang males mandi. Nah… di ruang TV ada papah lagi asyik baca Koran. Samar-samar gw ngeliat salah satu artikel tentang gayus tambunan yang di penjara tapi bisa ke Bali (Mantap… yah ! tahanan masa kini, punya ilmu rawa rontek kali yang bisa ngilang atau punya ilmu suap yang tinggi. Haaaahaa, hanya dia, kepolisian dan tuhan yang tahu).
Pas gw sarapan sama Mamah, papah, dan adek gw. adek gw menorah kearah gw dan tersenyum sendiri. Gw salah tingkah dong, emang ada yang lucu didiri gw?. Gw langsung usap-usap muka gw aja, kali aja ada sesuatu yang nempel (tapi gak ada). “Heh kunyuk.. kenapa lu ngetawain gw?” tanya gw ke Adek gw si Pinno. “Tanya aja sama mamah!” jawab si Pinno. Mata indah gw langsung mengarah ke mamah yang sedang lahap memakan nasi goreng buatan Bi Minah. “ini soal kesepakatan papah sama mamah buat… buat…” ucap mamah dengan ragu-ragu. “Buat apa mah?” tanya gw dengan penuh rasa ingin tahu yang kuat dan semangat yang menggebu-gebu. “buat jodohin kamu sama si Bryan anaknya Tante Dian yang ada di Inggris itu” lanjut mamah. “What?” jawab gw kaget dengan mata yang hampir keluar dan bibir nganga (sebenernya pura-pura, supaya keren aja biar kaya di film-film). Suasana hening sejenak kecuali Pinno yang masih cengengesan. “Bule ganteng itu, yang ada di album foto tahun baruan kemaren?” tanya gw dengan penuh semangat dan senyum kepuasan (kapan lagi dapet bule ganteng). “Kamu setuju?” tanya papah. “Dengan senang hati, kalo dipaksa he… he..” jawab gw sambil menebar senyum kemenangan.
Gw gak nyangka, lamaaaaaa gw ngejomblo eh pas dapet langsung bule. Mana Bulenya kagak nahan lagi. Nama lengkapnya Bryan Wicaksono, perawakan tinggi, rambut item agak-agak coklat, idung mancung, kulit bule bener. Pokoke mak nyos. Tapi ada beberapa kendala yang bikin gak enak. Pertama, gw belum pernah ketemu sama dia secara langsung. Kedua, gw gak bisa bahasa Inggris, gimana bisa nyambung kalo gak bisa ngobrolnya. Tapi kendala yang paling berat adalah : dianya mau gak sama gw?. Gw mesti puter otak, kesempatan itu gak boleh gw sia-siain. Meskipun Bryan punya darah Indonesia, tapi dia itu lahir dan di besarkan di Inggris, jadi dia gak bisa bahasa Indonesia. Menurut gw, kamus sama Alfalink itu gak cukup buat bikin gw pinter bahasa Inggris dalam waktu 2 bulan (Secara 2 bulan lagi, Bryan sama keluarganya mau ke Indonesia). Kata Siska sih, mendingan gw les kilat aja. Les bahasa Inggris gitu biar keren. Kebetulan kakak pacarnya punya temen guru les bahasa Inggris (ide bagus dalam kondisi genting ini meskipun gw males).
Akhirnya di suatu siang, gw dianter Siska sama Rara buat ketemu guru les gw. “alah gaya lu, pake jodoh-jodohan sama bule segala” ejek Siska. “Gw juga baru tau kemaren. Itu namanya pucuk dicinta ulam pun tiba! Ah.. sirik aja lu” Jawab gw dengan penuh kebahagiaan. Siang itu Kita janjian di CafĂ© gak jauh dari sekolah gw. “Eh.. eh.. itu orangnya dateng!” Ucap Siska sambil jari telunjuknya yang lentik berkutek pink menunjuk kepada seorang cowok dengan kemeja putih garis-garis dengan jeans panjang , kira-kira umurnya 20an. Mukanya juga cute, badannya lumayan tinggi, ya.. bisa dibilang baguslah (tapi kayaknya bagusan tunangan gw si Bryan). “Hi.. Mr.Ifan” sapa Siska pada cowok yang sedang menghampiri gw, Rara dan Siska. “Hi,, Sis, gak perlu pake Mr kali, panggil Ifan aja!” Ucap cowok yang pinter bahasa Inggris itu. Gw langsung nyuruh Mr.Ifan duduk dan memulai ke pokok pembicaraan. “Jadi gini Mr.Ifan, Saya Qiwi. Saya mau belajar bahasa Inggris sama mister. ” Ucap gw untuk memulai pembicaraan (Jangan tanya kenapa Rara gak ikut ngomong, dia lagoi asyik BBMan sama cowoknya). “dengan senang hati” Jawab Mr.Ifan dengan senyuman. Ya, kesan pertama ketemu sih kayanya dia orangnya baik dan sopan, itu terlihat dari cara dia bicara.
Hari pertama, gw belajar dirumah gw. Mr.Ifan langsung ngasih materi yang terdasar buat pemula kaya gw (sebenernya bukan pemula sih, dari SD gw udah belajar bahasa Inggris tapi gw gak terlalu ngerespon). Dia ngajarin gw gimana caranya ngenalin diri pake bahasa Inggris, cara minta izin atau minta maaf, cara bertanya dan lain sebagainya. Kesan gw buat Mr.Ifan itu, adalah dia itu tipe cowok yang sangat sopan dan menghargai orang. Pada dasarnya gw emang pinter jadi dalam jangka waktu yang tidak lama, ya.. kira-kira 2 minggu gw udah bisa cara memperkenalkan diri dan bertanya. Waktu yang sangat singkat dibanding sekolah bertahun-tahun.
Sebulan lebih udah gw belajar Inggris sama Mr.Ifan. Dia udah kayak kakak buat gw. Kata Mr.Ifan belajar bahasa Inggris itu gak cukup dengan teori doang. “Supaya kamu lebih bisa, Kamu sering nonton film Hollywood aja yang gak pake translate atau dengerin music barat!” Kata Mr.Ifan. “oh.. siip, buat tunangan aku tercinta apapun akan dilakukan, he..he..” Jawab gw dengan sedikit becanda. Mr.Ifan hanya tersenyum dan ngacak-ngacak rambut gw. Coba aja kalo gw belum di jodohin sama Bryan, pasti gw mau jadi pacar dia.
Gw ngerasa deg-degan, rasanya jantung gw mau copot. Besok adalah tepat 2 bulan yang gw tunggu-tunggu. Tapi gw ngerasa sedih karena gw udah bisa bahasa Inggris (meskipun sedikit) dan itu artinya gw gak bisa becanda sama Mr.Ifan lagi. Ahh.. gw harus buang pikiran itu jauh-jauh. Esoknya, gw sama keluarga gw ke Bandara buat jemput Bryan dan keluarganya. Kata mamah sih, Bryan lansung suka sama gw pas liat poto gw waktu ulang tahun yang mamah kirimin lewat E-Mail (wah.. cinta gw terbalaskan). Tiba di Bandara gw jadi gak pede, gw takut grogi ngomong Inggris meskipun gw udah bisa. Gw mikir kata-kata apa ya yang cocok buat mengawali pembicaraan nanti. Aduh pokoknya enggak banget deh.
Akhirnya Bryan datang juga. Waw, emang gak salah. Aslinya Bryan lebih Cool dari poto yang mamah kasih ke gw. Gw sangat menikmati pemandangan yang sedangn gw saksikan itu, Hingga akhirnya adek gw ganggu pandangan gw. “Biasa aja Kak, gak usah mimisan. hahahah” Ucap adek gw sambil tertawa puas. Gw Cuma bales pake tatapan tajam hingga bikin adek gw itu diem lagi. “Eh mbak Dian, selamat datang Mbak. Apa kabar? Udah lama gak ketemu ya..” Sambut mamah yang langsung memeluk calon mertua gw. Sementara itu, mata gw ngelirik Bryan yang kelihatan gagah dengan sweater hitamnya. Ternyata Bryan pun melihat kearah gw dan ngasih senyuman yang langsung gw bales pake senyum maut. “Baik jeng, gak kerasa ya, anak kita udah pada besar” Jawab Tante Dian ke mamah gw. “Ya sudah mari, kita ke mobil, come on sir!” Ucap papah gw ke bokapnya Bryan yang terlihat masih muda. “Qiwi, mobil mamah gak muat, jadi kamu sama Bryan yah!” Ucap mamah ke gw. “ah..? iya mah.” Jawab gw sambil pura-pura malu gitu padahal aslinya gak tahu malu.
Di mobil, gw punya kesempetan buat lebih mengenal Bryan dan sekalian cuci mata (aduh senagnya hatiku di kasih vitamin C=Cinta). “I like the view. This is Bandung?” Tanya si bule itu sambil menoreh ke arah gw. “Ya.., ” jawaban gw yang singkat, padat dan jelas (masalahnya gw takut salah ngomong). Bryan ngomong lagi : “we never know any other before, but I believe that we can make a good relation like now”. Gw gak konsen banget, akhirnya gw cuma ngasih senyum sama dia sok ngarti padahal gw Cuma faham sebagian. 10 menit sudah selama perjalanan gw nyoba memberanikan diri buat ngomong ke dia “I hope, you’ll enjoy with me!” Ucap gw ke Bryan (itu kata Yang gw inget yang pernah di ucapin Mr.Ifan waktu gw masih gak bisa bahasa Inggris). Pandangan gw terarah antara melihat Bryan dan melihat jalan(coz gw lagi nyetir). Sementara itu Bryan menorah ka arah gw, gw rasa dengan wajah serius. “Honest, I can’t forgetting you since I saw your photos. I know, may be you’ll think that it’s so crazy”.(gila tuh bule, terang-terangan banget) Aduh gw udah GR banget, rasanya gw lagi terbang melayang bersama burung-burung yang bernyanyi indah saat gw denger dia ngomong gitu. “Same here, I felt it too” jawab gw sambil nahan pengen jingkrak-jinkrak.
Singkat kata, gw pun lulus dan pertunangan pun tiba. Acaranya di adain di Bali sekalian gw sama keluarga Bryan liburan disana dan enggak lupa juga pedekate. Pestanya dibuat meriah dengan suasana yang anak muda abis. Disana ada temen-temen gw dan kebanyakan temen-temen orang tua gw sama orang tua Bryan. Disana juga datang Mr.Ifan (saat itu gw ngerasa kangen sama dia). “Hi, Qiwi! What a suit couple” Ucap Mr.Ifan yang kayanya basa-basi . “Thanks Buddy” Jawab Bryan sambil menepuk punggung Mr.Ifan. entah kenapa gw gak bisa berkata-kata, I just could say thanks. Acara pun di mulai. Kami, gw sama Bryan saling bertukar cincin dan telah resmi bertunangan di pulau para dewa yang indah, Bali. Semua yang gw alami seakan sebuah mimpi yang berubah menjadi nyata dan terasa begitu nyata. Hal yang berawal hanya ada dalam mimpi indah gw kini bisa gw rasakan dengan sangat jelas.(lebay)
Emang sih gw baru 17 tahun, tapi gak ada salahnya kan buat tunangan? Dari pada gw pacaran sama orang gak jelas, nanti hidup gw yang udah gak jelas malah makin gak jelas. Sebenernya gw masih bingung, kok mau ya si Bryan tunangan sama gw. Secara di negaranya kan cewek yang 1000x cute dari gw itu seabrek. Whatever, in the fact banyak orang bule yang terpesona sama orang Indonsia, buktinya Tante Dian. Dia bisa nikah sama Om Rodelf gara-gara tabrakan di tempat pariwisata di Jogja. Emak gw aja yang dapet bokap gw dari Jawa, padahal temen FaceBooknya kebanyakan bule.
Hari ketiga di Bali, gw ngerasa ada yang aneh sama Bryan. Meskipun gw ada disisinya dia gak segan-segan buat ngegoda tourist yang sedang berjemur di pantai. “Hi… sweety!” begitulah Bryan menyapa cewek-cewek bule itu (Mungkin orang bule kalo nyapa cewek gitu kali). Tapi gw masih maklumin itu, mungkin di Inggris dia begitu. Tapi apa itu wajar, dia seolah gak ngehargain gw. Saat itu gw gak tahan ngeliatnya dan gw langsung pergi ninggalin dia tanpa dia tahu. Mungkin saat itu gw cemburu atau kesal atau apalah itu yang pasti gw bĂȘte banget. “I don’t like the way you did to those girls !” Kata gw. “hey, somebody jealous here” Jawab Bryan sedikit menyindir, “come on baby, I’m not serious. I thought you know that I love you so much” lanjutnya.” I never know, you never show it to me” Jawab gw dengan suara agak meninggi. Tiba-tiba Bryan terdiam dan menatap mata gw dengan mata birunya yang bersinar menyinari hati gw yang lagi empet. Dan gw bales buat natap matanya balik. Gw lihat mata itu semakin mendekat, terus mendekat, mendekat dan…… “QIWI…..!!!!” tiba-tiba terdengar suara cempreng dari kejauhan manggil nama gw. Seketika semuanya menjadi buyar. “Qiw… kenapa lu, lagi ulang tahun kok ngelamun?” tanya Siska sampil nepak punggung gw. “Ah Siska… lu ngehancurin semuanya!!!” gerutu gw. “Apa sih lu…” jawab Siska. Dasar teman yang tidak pengertian, padahal sebentar lagi Si Bryan nyium gw. “Uda lah.., biasa temen kita yang satu ini suka ngayal gak jelas… ha..ha..” ejek Rara sambil mainin rambut ikalnya yang diwarna.
“Lu dicari nyokap lu, ada tamu tuh”
“Tamu? Bukannya semua tamu udah pada dateng”
“Mana gw ta
Mengetahui itu, gw langsung beranjak dari kursi yang sudah menjadi saksi akan hayalan gw yang gagal. Dengan langkah yang lemas dan agak ngesot gw langsung nyamperin nyokap gw. “ada apa mah?” tanya gw. “Tunggu sebentar ya!” jawab mamah dengan senyum penuh arti. Mamah pun pergi ke ruangan depan. Setelah menunggu sebentar, mamah kembali dengan seseorang yang gw kenal, seseorang yang gw…. YA AMPUNNNN…. Bryan dateng ke pesta gw.
Nina Minawati M
SMAN 2 Purwakarta
Langganan:
Postingan (Atom)

